Wednesday, August 14, 2013

Doa di tahun ke tujuh.

Aku mengamatinya beberapa hari ini kerap agak menengadah sambil memejamkan mata di jam-jam tertentu. Kadang dahinya berkerut, kadang sambil tersenyum, atau memanyunkan bibir bawah layaknya anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.

Tadinya aku pikir dia sudah mulai gila mengingat akhir bulan sudah semakin dekat dan persediaan tabungan sudah semakin tipis.

Jam 2 pagi aku terbangun. Aku melihatnya berkhusyuk pada doanya. Diakhiri dengan sujud yang agak lama, matanya kembali terpejam, dan bibirnya tersungging senyum.

Jam 11 siang. Aku ingin meminjam ipod sambil menunggu makan siang. Lagi-lagi ku temukan dia sedang menghadap jendela, melihat langit sejenak, sambil berkomat kamit entah apa.

Jam 9 malam. Sebagai teman satu kos yang baik, kami suka berbagi makanan. Kebetulan tadi selewat jalan pulang aku membeli sate padang.
Dia sudah di kasurnya sambil duduk, setengah badan sudah terselimuti, memandang ponselnya lalu menangkupnya di dada. Tak lupa berkomat kamit kembali.

Aku sudah puas mengamatinya dan ritual anehnya. Aku ngga rela temanku gila di usia muda. Akhirnya aku beranikan bertanya.

'Sya, gue udah ngga paham deh sama ritual lo belakangan ini. Suka tiba-tiba madep tembok trus kaya ngomong sendiri. Lo depresi? Ada masalah? Cerita dong Sya', aku menunjukkan wajah melas.

Si sableng ini malah senyum dan menjawab, 'Gue percaya Ra, yang datengnya dari Tuhan itu kalo mau diminta ya mesti dari Tuhan langsung. Jam 9 malem disini, jam 7 pagi di sana. Dia baru mulai kegiatannya. Gue doain semoga harinya berjalan dgn baik. Jam 2 pagi disini, disana jam 4 sore. Dia baru selesai kegiatannya. Gue doa semoga apa yang dia dapet dari pagi bisa terserap sempurna. Biar dia makin pinter. Jam 11 siang disini, disana jam 9 malem. Dia udah mau tidur. Gue berdoa semoga hal baik hari itu berlanjut di hari selanjutnya. '

Aku bengong.
'Siapa, Sya?', tanyaku.

Tasya hanya tersenyum. Aku lalu teringat pada seseorang yang beberapa hari lalu berpamitan. Untuk pergi ke benua seberang.

'Ya ampun, Sya. Jangan bilang ini si Dimas? Masih Sya?', aku lantas memeluknya. Pelukannya semakin erat. Aku bisa merasakan. Rindunya masih ada.

September, 2006.
'Ra, itu siapa ya? Mukanya jawa banget, suka senyum gitu, baik kayanya'

'Oh, itu Kak Dimas. 2 taun di atas kita kayanya.'

Dan aku tahu sejak itu Tasya jatuh hati pada sosok Dimas yang sederhana, pintar, dan ramah. Aku jadi saksi ketika dia berusaha mati-matian ikut seleksi masuk senat, atau ketika dia patah hati sepatah-patahnya sewaktu tau Dimas jadian dengan temannya. Tasya bodoh. Cuma bisa diam. Punya rasa tapi ngga pernah berani bilang.

Ini sudah tahun ke tujuh. Entah sudah berapa banyak doanya.

Ini bukan tentang musik yang bernada gesekan biola ataupun petikan gitar. Ini tentang riuh rendah nada di luar indera. Yang memenuhi isi kepala, lantas memainkan perannya masing-masing disana. Ada monolog si pemilik kepala yang diramaikan dengan tanya jawab tak berakhir, ada hela nafas tiba-tiba, ada pula imaji yang berkelana jauh kesana; ke tempat tak teraih raga, yang rupanya tak pernah tertangkap panca indera.

Benak bagaikan goa, memantulkan segala suara, saling bersautan.

Aku matikan lagu kesukaan yang sedang menyala. Suara musik harus kembali kalah lagi kali ini.

Monday, August 12, 2013

Malaikat juga tau, Ibu yang jadi juaranya.

Sepulang dari Thamrin City, Ibu, Adik, dan saya sendiri mampir ke mayestik. Setelah itu kami nunggu metro mini 72 arah ke blok M. Tumben-tumbenan, busnya agak jarang. Mungkin karena masih suasana lebaran.

Udah jam 5 sore, tapi panasnya matahari masih nyengat. Kepala saya udah keliyengan, jadi pasrah duduk nyender di tiang berlambang dilarang parkir. Masih sambil nunggu hal yang sama, jodoh -eh bus 72 maksudnya.

Ada kali 20 menit nunggu, sampe akhirnya Ibu bilang, 'bajaj mau ngga ya 25 ribu ke lebak bulus?'

Tuesday, August 6, 2013

Sebuah kebetulan.

Beberapa hari lalu aku sempat kepikiran tentang seorang teman yang pernah berhubungan sangat baik. Pernah mengaku sahabatan, dengan embel-embel lebih sayang sahabat ketimbang pacar.

Tentunya kita berbeda jenis kelamin. Menjalani semuanya dengan lagu lama: ngakunya sahabat, padahal..

Sampe suatu waktu dimana hubungan itu selesai.
Itu sahabat pertamaku.
Pertama kalinya juga merasa kehilangan. Hampir 9 tahun sebelum hari ini.

Ya, beberapa hari lalu tetiba teringat.
Dan tadi, kaki rasanya membatu. Aku sampai terbengong. Sedetik dua detik, orangnya terlihat dari kejauhan. Semakin dekat. Dan berlalu.

Dan benar saja. Itu dia.

Monday, August 5, 2013

Make a wish.

'kalo lo dikasih satu kesempatan buat minta sesuatu, apa yang bakal lo minta?'

'hmm, apa ya. Gue mau minta supaya jadi istri lo aja'

'hah? Serius?'

'hahaha. Ya nggaklah. Gue mau minta sate padang aja cukup. Laper nih, yuk ah cari makan'

'dasar stres. Ayok, gue juga laper'

Sang Adam masih tercekat dengan ucapan barusan. Gue kira beneran. Gue udah deg-degan aja. Kalo beneran kan sekalian aja gue jadiin. Tapi ya mana mungkin sih ni anak beneran.

Yang melangkah duluan di depan memejamkan mata sejenak. Hatinya bergemuruh. Nafasnya coba dia atur perlahan. Njir, apaan deh gue barusan. Bisa banget lo Kar menang best actrees sejagat. Makan tuh sate padang.

A message has been sent.

Take care  :)

Sunday, August 4, 2013

Aku ingin.

Aku ingin menjadi tempatmu menumpahkan cerita.
Aku ingin menjadi temanmu berlari di pagi hari.
Aku ingin menjadi temanmu berjalan di taman ketika sore hari.
Aku ingin menjadi temanmu berbagi sepotong kue.
Aku ingin menjadi pengguna sajadah tepat di belakangmu.
Aku ingin menjadi yang pertama mencium tanganmu dan melihat wajah bangun tidurmu.
Aku ingin menjadi saksi ketika kamu bangkit setelah jatuh.
Aku ingin menjadi yang sibuk menyiapkan sarapan, bekal, dan makan malam untukmu dan replika-replikamu.
Aku ingin ada di setiap ucapan doamu.
Aku ingin menjadi rumah bagimu; tempatmu kembali setelah berpergian seharian, bahkan dari tempat terdekat sekalipun.

Aku ingin, dan selalu ingin, tidak pernah tidak, dan tidak akan pernah berhenti.

Ceritakan satu-satu, kita masih punya banyak waktu.

Nafasmu menderu. Matamu binar. Sesekali tersenyum. Kadang terselip suara tertawa.

Celotehmu menggunakan banyak aksara. Mengandung banyak emosi.
Kamu yang bercerita, dan aku yang sibuk berimaji.

Sekotak donat, arak-arakan burung, dan temaram langit sore. Kita habiskan waktu dengan perlahan sekaligus cepat. Bercerita tentang hari ini.

Saturday, August 3, 2013

Selamat jalan.

Fajar baru akan muncul di batas ufuk. Rasa kantukku bahkan tetiba sirna. Aku sudah duduk di dekat jendela, menatap gelapnya langit subuh.

Aku titipkan doaku pada deru mesin kendaraan, pada tiap panggilan tujuan, pada senyum petugas, pada kopi hangat yang kamu teguk pagi ini.

Doa pagiku adalah kamu. Yang menyelinap di mimpi semalam. Yang akan singgah sebentar di benua sana. Yang pasti akan kembali.

Selamat mengudara. Selamat menyentuh langit cita-cita.

Sampai bertemu lagi

Aku mengawali pagi ini dengan agak terperanjat dengan kepamitanmu. berangkat besok, untuk waktu yang kau bilang sebentar. pamit? sebenarnya tidak juga. lebih tepatnya karena ku bertanya dan kau menjawab.

bentukmu itu biasa saja. berantakan malah ketika pertama kali ku lihat. dengan gaya khas mahasiswa. yang tertinggal hingga kini di kepala adalah keramahanmu padaku si anak baru.

jika ada yang bertanya tentang pertama kali, ya kau lah orang pertama yang membuatku merasa tidak terlalu asing. yang padahal ku tahu kau memperlakukan semuanya sama. siapa suruh yang lain merasa biasa saja.

kau juga orang pertama yang selalu ku cari ketika ada perkumpulan. kaus berkerah berwarna hijau dan rambut gondrong sebahu. dan tas selempang. buatku kau adalah kakak. bahkan aku menyebutmu abang, meskipun asalmu dari tanah majapahit.

kau itu manis.

semanis senyum tipis setiap kali semua orang tiba-tiba menjodohkanmu dengan temanku sendiri. semanis air mata yang rembes di ujung mata. semanis aku senang melihatmu senang. semanis aku mencoba mencipta jarak antara kutub utara dan selatan pada magnet.

ini kehidupan, dan yang kita punya sangat berbeda. aku sesekali mengintip hidupmu, sesekali menyapamu, sesekali rindu.

lucu ya.
aku mengagumimu entah seperti apa.
Mungkin seperti anak gadis kepada kakaknya. Atau juga seperti anak SMA yang kepincut seniornya.

Friday, August 2, 2013

Kita dan segelas es kelapa muda

Sebenarnya kita adalah gabungan dari aku yang suka menggerutu, kamu yang merayu, dan segelas es kelapa muda yang menunggu.
Ceritakan apa saja yang otakmu produksi tentang hari itu. Pasti aku akan pura-pura syahdu. Dan kita akan berujung diam, sambil menyeruput es kelapa muda seharga lima ribu.
Dan sekarang, penjual es kelapa muda itu sudah digusur entah kemana. Aku sedang membunuh waktu, sehingga melangkahkan kaki ke tempat dulu.
Kamu dan hidupmu adalah hingar. Sedangkan hidupku kini terlalu jauh dari bingar. Pernah kulihat beberapa kali kamu sedang menggandeng gadis entah siapa. Dengan tertawa-tawa. Entah apa yang ditertawakan di pagi-pagi buta dengan rambut berantakan dan langkah gontai.
Sepuluh tahun berlalu jika aku hitung dengan kalender. Dan jarak kita semakin jauh saja. Sudah tidak ada lagi cerita tentang kesialan, atau dribble bola basket yang memantul ke dinding sebelah.

Serasa aku berjalan tanpa arah. Sedangkan kamu disana yang entah sedang berbagi es kelapa dengan siapa.

Aku rindu.
 

Template by BloggerCandy.com