Sunday, March 27, 2011

secangkir teh ketika senja.

aku telah berpakaian lengkap. aku pilihkan baju terbaikku untuk hari itu. aku rapikan rambutku. dan sedikit pemoles bibir berwarna pink pucat. hanya sedikit sebagai pemanis.

jam dinding sudah kulirik barusan. detiknya seakan berjalan mundur. lama sekali rasanya menunggu waktu tak kurang dari sepuluh menit. aku tunggu kau disini. di meja teras. dengan secangkir teh hangat kesukaanmu. dengan gula yang tak terlalu banyak. agar tak jadi penyakit, pesanmu. ku benarkan letak cangkir. Ku rapihkan roti kering manis disebelahnya. aku dan paket ini sudah siap menyambutmu.

dan, kau akhirnya pulang. deru kendaraanmu adalah suara favoritku. karena itu pertanda bahwa kau akan kembali. berhamburku ke arahmu. mencium tanganmu, tanda hormatku. Ku amati wajah lelahmu. Dan ku hanya temukan senyum hangatmu di sana. Kau selalu begitu, sayang. Tak ingin buatku khawatir atas juangmu hari ini.

Ku gandeng tanganmu, ku ajak kau ke sofa kesayangan. Kusuguhkan secangkir tehmu. Kau tahu kan? Di dalam teh itu ada rinduku seharian ini padamu. Rinduku pada tiap kata yang akan kau ucapkan, setelah tegukan pertama..

Friday, March 25, 2011

Ketika hati ikut campur urusan skripsi

P: Nah ituuu, gw masih belum dapet deh Cul, apa ya yang enak buat dihubung-hubungin?
T: Naaah Put, ngga semua hal bisa dihubungin. Ada hal-hal yang ngga bisa dipaksakan untuk berhubungan *lantas kepikiran sesuatu*
...


P: Sidang skripsi itu apa aja sih Cul yang ditanyain?
T: Ya layaknya gw yang nanyain, kenapa skripsi lo judulnya ini, kenapa mau neliti ini, pentingnya apa? trus kenapa subjeknya ini? kenapa variabelnya ini?
P: Itu dia cul. Gw tuh orangnya suka ragu-ragu gitu. Suka ngga yakin gitu lho.
T: Kaya waktu sama si itu ya?
...

Sejurus kemudian, perdiskusian skripsi selesai dan diganti dengan:
eh tadi si itu ngapain aja di kantor? masih sama si cewe itu?




andaikan diskusi skripsi juga bisa selancar curhat..
 

Template by BloggerCandy.com