Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2012

Sepenggal Bahagia Kami

Aku menikmati pemandangan di depan mataku ini. Senyumnya sederhana. Sempat terhenti dalam hitungan detik yang singkat, lalu tergores lagi di wajahnya. Sesekali ia tertawa atas polah lucu anak kecil di hadapannya. Tak lama pasti ia akan katupkan kedua telapak tangannya di wajah. Tanda ia sudah tak tahan untuk tertawa lebih lepas lagi. Gerak kakinya ringan. seolah tak perduli pada setiap mata yang memandang. Seolah ia berhak menikmati setiap gerak bebas yang ia punya. Dan ia tahu itu. Refleks akupun tersenyum. Lega. Bisa melihatnya sebahagia itu. Lega. Aku tak perlu lagi cemas. Matanya akhirnya beradu dengan pandangku. Selain tersenyum, aku bisa apa? Dengan sedikit anggukan, aku pastikan bahwa aku tersenyum. Begitujuga ia disana. Kami tak perlu lagi berbahasa. Kami pernah memiliki rasa yang sama. Saat itu. Sampai satu titik dimana kami akan tetap bahagia meski tak bersama. Ku lepas tangannya, hari itu. Tak ada sedih, tak ada benci. Kami tahu, kami akan baik-baik saja. Aku lanjutkan melan

just another blablabla

Sebenernya ini udah ready steady go buat tidur, tapi efek quality sleep selama weekend cukup bisa bikin mata ngga ngantuk, di jam segini. Alasan. Padahal mah lagi galau. Besok udah masuk kerja aja. Perasaan baru kemarin hari Sabtu *kemarin palelu* Dikasih libur banyak salah, dikasih masuk kerja juga salah. Manusia. Ngga pernah puas. Terus kenapa masih belum tidur? Kan tadi udah dibilang. Lagi galau. Tapi galaunya kenapa? Pertama, kangen si babeh. Lama euy perginya. Well actually biasanya juga pergi dines 2 minggu. Cuman yang ini beda. Perginya ke tempat yang selisih waktunya 12 jam lebih lambat dari disini. Ke belahan bumi sebelah sana. Kedua, belum gajian. Alias bokek. Kangen euy gajian. Lagi pengen beli sepatu, beli baju. Kalo dikumpulin nih ya, gw itu palingan 2 atau 3 bulan sekali ngerasain yang beneran pengen beli baju. Dan itu jatuh di bulan ini. Tuhaaaan, selamatkan tabungan sayaaaa (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩) Ketiga, untuk sebuah alasan yang ngga jelas, I got this awkward feeling. Its kinda co

#2 Kebertigaan Kita

Pertama-tama, ijinkan gw untuk kembali menggunakan sapaan gw elo di surat kedua gw ini. Karena nanti yang ada bakal geli sendiri bacanya kalo pake aku kamu. Surat ini gw tujukan ke 2 orang yang gw kenal sejak pertama masuk kuliah. Yang sama-sama diatur oleh tangan-tangan ajaib sedemikian rupa sehingga bisa bareng di satu kelompok masa orientasi kampus. Lalu untuk selanjutnya karena huruf depan nama kita bererot K dan L dan L, jadilah kita sering ketemu di kelas-kelas kuliah sunah, psibang, logika, metpen, dan kelas-kelas wajib, seperti makan di kantin, touring di detos, atau nonton di margo. Gw akuin, awal bareng sama kalian itu rasanya sulit. Sebagian diri gw rasanya kebelah-belah ngga keruan. Jadi suka nonton, jadi suka belanja, jadi suka nyatet, jadi suka meratiin dosen nerangin. Kaya irisan semesta di matematika, yang akhirnya ada sebagian diri gw yang ternyata serupa sama sebagian diri kalian yang lain. Dan seiring berjalannya waktu, irisan-irisan itu semakin lebar. Gw banyak meng

another misuh-misuh

Abis nangis semaleman, bangun-bangun mata tinggal segaris. Puyeng dipake melek. Apalagi dipakein kacamata yang minusnya gede alaihum gambreng. Ditambah pilek pula. Baru permulaan, dimana pasukan pileknya lagi menginfasi daerah kepala sama idung. Berat cuy kepala rasanya. Laper tapi males makan. Lidahnya rasanya pait. Blaaaaaaaah.

#1 Hai hujan

Pagi ini masih saja kau buat sendu oleh air dinginmu. Membuatku betah berlama-lama meringkuk dalam selimut tebal, sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangan. Bahkan mataharipun mengalah untukmu. Memberikanmu banyak waktu untuk berlama-lama menyentuh bumi. Hai hujan.. Sampaikah juga kau ditempatnya? Sedang apa dia sekarang? Apakah masih berpeluk manja dengan mimpinya? Ataukah sedang bergerak bebas di luar sana? Memikirkannya saja sudah membuatku rindu, sangat rindu. Hai hujan.. Kau datang dari atas langit. Tempat Tuhan berada. Apakah Tuhan menitipkan rinduku melalui kau, untuknya? Semalam aku cerita banyak pada Tuhan. Ketika kau turun. Sampai aku terlelap. Mataku basah. Pipiku basah. Semoga Tuhan benar-benar percaya semua ceritaku semalam. Sehingga bisa titipkan pesanku untuknya melalui kau. Hai hujan.. Aku rindu masa kecilku. Aku rindu bisa berlari bebas ke arahmu. Menari gemulai bersamamu. Tertawa sambil memejamkan mata. Membiarkan tiap-tiap airmu membelai manja wajahku. Dan kau tahu? A

Mbulet

Kangen sampe bikin nangis. Sesegukan. Padahal yang dikangenin juga belum tentu peduli. Padahal yang dikangenin bisa aja malah lagi kangen sama yang lain lagi. Yah, mau gimana lagi :(

Velodrome

Pertama kali ke kawasan pulogadung ngga sendiri. Ngga berani, karena belum pernah. Tapi setelah itu, beruntung punya jalan lain untuk bisa sampe ke kawasan industri itu. Tanpa harus lewat jalan raya rawamangun. Tapi tadi, terpaksa lagi buat kembali melewati jalan lurus itu. Yang tiap beberapa meternya ada halte busway. Halte Velodrome. Pernah bolak balik disana. Ada 1 lagi halte, lupa namanya. Entah balai rakyat atau apa. Letaknya persis di seberang GOR. Pernah ketawa ngga bisa berenti disana. Pernah nunggu bis disana, dan berdoa kalau bisnya ngga apa-apa kalo ngga dateng. Pernah liat ekspresi muka ngga terima karena dikasih tebak-tebakan yang garing. Berusaha setengah mati ngeles, tapi tetep aja ngga berhasil. Tapi tetep, ngga ada yang ngalahin halte busway velodrome. Di sana, muncul keputusan kalo ngga perlu ada yang pulang sendiri. Ada keputusan buat pulang cepet dengan segala konsekuensi, buat nemenin. Ada tangan yang menjaga dari bahu belakang. Dan di bis, banyak cerita yang terba

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana, Ketika bisa bangun pagi, berangkat kerja tanpa macet, sampai kantor disapa hangat oleh siapa saja yang ada di sana. Ketika bisa pulang kerja dengan masih sempat melihat matahari sore. Ketika bisa memberikan tempat duduk kepada orangtua di bis. Ketika bisa menghemat makan siang. Ketika mendapat sms dari bank, tanda gajian. Ketika sebuah keluarga menggelar tikar di tepian pantai. Berbagi cerita. Berbagi makanan. Ketika masih bisa tertawa dan melempar canda bersama teman-teman. Dan bahagia itu sungguh sederhana, Jika kau ada dan tidak pernah memaksaku untuk pergi.

To Be or Not To Be.

[Posisi udah cakep di kasur. Plus selimut. Sambil dengeri lagunya Naif, Dimana Aku Disini] 'Kau yang slalu bilang slalu bilang, tuk tetap aku disini' Beberapa hari ini, lagu ini yang lagi sering gw puter berulang-ulang. Sambil bengong. Sambil nerawang pikirannya. Tapi tenang, ngga nangis. Its all about what God wants from me. For the sake of balancing life or every kindness on earth, gw tekankan bahwa ini ngga semata-mata soal hati. Kadang suka ngga ngerti aja ini idup mau dibawa kemana. Giliran pengen itu, adaa aja ngga bisanya. Giliran pengen ini, adaaa aja ngga bolehnya. Trus jadi bolehnya yang mana? Apa Dia sengaja 'mainin' kita? Atau justru kita sendiri yang belum ngerti bener diri kita sendiri? Belum tau, sebenernya kita maunya apa. Atau mungkin, tentang bagaimana kita memainkan pilihan-pilihan itu dalam hidup kita sendiri. Let's make some example. Ngga usah jauh-jauh. Gw aja deh.. My future. All I want to be in the future is to be a housewife. Waiting for my

Ingat ya :)

Ketika suatu hari nanti aku ternyata diizinkan untuk dicintai dan mencintaimu, satu hal yg akan kulakukan adalah menghambur ke arahmu dan memelukmu erat. Sangat erat. Dan tak ingin kehilangan lagi..

Hari ke enam..

Gerimis masih malu-malu membasahi sketsa alam di hadapanku. Membiaskan embun pada kaca jendela. Membuatku semakin erat memeluk kedua tungkai kakiku. Dingin di luar sana, pasti. Kau sedang apa? Aku sangat rindu..

Untukmu Yang Untukku..

Menggengam rindu sejak kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi. Rasanya seperti ada sepojokan yang kosong. Meminjam aksara yang telah ada, tapi rasanya tak akan pernah cukup. Ini yang tak pernah terfikirkan oleh perangkai kata manapun. Di kala huruf-huruf itu tetap saja tak memiliki arti, tak secuilpun menggambarkan apa yang terdetak, apa yang mengalir di balik rusuk. Berharap ada kata di atas rindu. Berharap ada kata lebih luas dari rindu. Berharap ada kata lebih dalam daripada rindu. Senyummu.Bijakmu. Dekap hangatmu. Itu yang akan selalu aku tunggu di sini. Mungkin saat ini kita sedang mengembara di jarak yang Tuhan tentukan. Tapi aku selalu tak sabar menunggumu di ujung garis sana. Menyambut senyummu. Menyambut genggammu. Melepaskan semua rindu ini. Suatu hari nanti. :)