Sunday, January 29, 2012

Sepenggal Bahagia Kami

Aku menikmati pemandangan di depan mataku ini.
Senyumnya sederhana. Sempat terhenti dalam hitungan detik yang singkat, lalu tergores lagi di wajahnya. Sesekali ia tertawa atas polah lucu anak kecil di hadapannya. Tak lama pasti ia akan katupkan kedua telapak tangannya di wajah. Tanda ia sudah tak tahan untuk tertawa lebih lepas lagi. Gerak kakinya ringan. seolah tak perduli pada setiap mata yang memandang. Seolah ia berhak menikmati setiap gerak bebas yang ia punya. Dan ia tahu itu.

Refleks akupun tersenyum. Lega. Bisa melihatnya sebahagia itu. Lega. Aku tak perlu lagi cemas.

Matanya akhirnya beradu dengan pandangku. Selain tersenyum, aku bisa apa? Dengan sedikit anggukan, aku pastikan bahwa aku tersenyum. Begitujuga ia disana. Kami tak perlu lagi berbahasa. Kami pernah memiliki rasa yang sama. Saat itu. Sampai satu titik dimana kami akan tetap bahagia meski tak bersama. Ku lepas tangannya, hari itu. Tak ada sedih, tak ada benci. Kami tahu, kami akan baik-baik saja.

Aku lanjutkan melangkah. Menghampiri wanitaku di seberang sana. Di ujung mataku, ia juga kembali dengan waktunya, menggendong putri kecilnya yang sedari tadi merengek 'Ibuuu, yuk kita beli es krim'

Aku yakin, kami akan tetap bahagia.

Monday, January 23, 2012

just another blablabla

Sebenernya ini udah ready steady go buat tidur, tapi efek quality sleep selama weekend cukup bisa bikin mata ngga ngantuk, di jam segini.
Alasan.
Padahal mah lagi galau.

Besok udah masuk kerja aja. Perasaan baru kemarin hari Sabtu *kemarin palelu*
Dikasih libur banyak salah, dikasih masuk kerja juga salah. Manusia. Ngga pernah puas. Terus kenapa masih belum tidur?
Kan tadi udah dibilang. Lagi galau.
Tapi galaunya kenapa?

Pertama, kangen si babeh.
Lama euy perginya. Well actually biasanya juga pergi dines 2 minggu. Cuman yang ini beda. Perginya ke tempat yang selisih waktunya 12 jam lebih lambat dari disini. Ke belahan bumi sebelah sana.

Kedua, belum gajian. Alias bokek.
Kangen euy gajian. Lagi pengen beli sepatu, beli baju. Kalo dikumpulin nih ya, gw itu palingan 2 atau 3 bulan sekali ngerasain yang beneran pengen beli baju. Dan itu jatuh di bulan ini. Tuhaaaan, selamatkan tabungan sayaaaa (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)

Ketiga, untuk sebuah alasan yang ngga jelas, I got this awkward feeling. Its kinda complex and complicated sih. Apa ya.. Emmm, bingung juga mau jelasinnya gimana. Huah. Bahkan mau nulisnya aja ngga sampe hati. Tapi ngeganggu pikiran gw sangat. Argh God.. Kenapaaa siiiiiih..
Kan, bingung kan? Samma. Gw juga.

Keempat, menjelaskan alasan nomor 3.
Pernah ngga siiih ngerasa gini: elu bukan siapa-siapa, jadi ngga berhak buat ngerasain marah atau takut karena sekali lagi, elu bukan siapa-siapa, tapi rasanya elu pengen banget jambak siapa aja yang bikin lu jadi punya sekat buat mendekat?

Yes. Alasan terakhir bintang utamanya. Yang lain cuma figuran.

Nite!

kinda wish lists

I wish I had some good reason to get out from these whatever-they-named.
I wish I could just be fine.
Or,
I wish I could cry, if I have to..


Nite.

Sunday, January 15, 2012

#2 Kebertigaan Kita

Pertama-tama, ijinkan gw untuk kembali menggunakan sapaan gw elo di surat kedua gw ini. Karena nanti yang ada bakal geli sendiri bacanya kalo pake aku kamu.

Surat ini gw tujukan ke 2 orang yang gw kenal sejak pertama masuk kuliah. Yang sama-sama diatur oleh tangan-tangan ajaib sedemikian rupa sehingga bisa bareng di satu kelompok masa orientasi kampus. Lalu untuk selanjutnya karena huruf depan nama kita bererot K dan L dan L, jadilah kita sering ketemu di kelas-kelas kuliah sunah, psibang, logika, metpen, dan kelas-kelas wajib, seperti makan di kantin, touring di detos, atau nonton di margo.

Gw akuin, awal bareng sama kalian itu rasanya sulit. Sebagian diri gw rasanya kebelah-belah ngga keruan. Jadi suka nonton, jadi suka belanja, jadi suka nyatet, jadi suka meratiin dosen nerangin. Kaya irisan semesta di matematika, yang akhirnya ada sebagian diri gw yang ternyata serupa sama sebagian diri kalian yang lain. Dan seiring berjalannya waktu, irisan-irisan itu semakin lebar. Gw banyak menghabiskan waktu bareng kalian, banyak memiripkan sifat dan kebiasaan-kebiasaan dengan kalian.

Kalo lagi mau lebay, bisa dibilang, gw tumbuh bareng kalian. Ngelewatin 4 taun yang ngga gampang di usia 18-22. Gw ngelewatin masa peralihan dari belasan ke puluhan dengan kalian.

Tadinya sempet mikir, apakabarnya gw kalo udah lulus nanti? Biasanya main dikit-dikit sama kalian. Terus nanti kalo udah lulus mainnya sama siapa? Kalo nanti gw udah punya lingkungan baru, apa mereka bisa mengerti dan menerima gw sebaik kalian?

Dan disinilah kita sekarang. Di hampir taun ke 6 kita berjalan. Udah lulus, udah kerja, udah punya lingkungan baru masing-masing. Kalo mau jujur-jujuran, gw kangen banget kebertigaan kita. Dengan kesibukan masing-masing, biasanya gw palingan jalan dengan salah satu dari kalian. Jarang banget kita bisa jalan bertiga macamnya jaman kuliah dulu.

Kita sama-sama mengejar mimpi kita masing-masing. Gw mengerti itu. Dan gw berharap, di sela-sela mengejar mimpi, kita masih bisa sempatkan waktu untuk saling cerita perjalanan kita, atau untuk saling tukar semangat.

Maaf kayanya udah ngga mempan buat ngungkapin betapa berdosanya gw yang selalu muncul dengan keluhan-keluhan dan rentetan cengeng-cengengan dan egois yang nyebelin itu.

Terimakasih juga gw rasa udah basi banget buat kalian yang udah sedemikian baiknya buat gw. Gw seneeeeeeeng banget bisa punya temen-temen kaya kalian.

Udah lama kan lo pada ngga gw norakin kaya gini? Terima aja kalo surat cinta gw kedua ini buat kalian, Lathifah Hanum dan Leony Caesaria.

Taun ini semoga jadi taun yang lebih baik buat kita semua. Semoga kita masih bisa saling support satu sama lain, sekarang atau 50 taun lagi (ih, umur 74 muke udah kaya apeee).

Cheers,
Kartika Damayanti

a lot.

I miss you.

Saturday, January 14, 2012

another misuh-misuh

Abis nangis semaleman, bangun-bangun mata tinggal segaris. Puyeng dipake melek. Apalagi dipakein kacamata yang minusnya gede alaihum gambreng. Ditambah pilek pula. Baru permulaan, dimana pasukan pileknya lagi menginfasi daerah kepala sama idung. Berat cuy kepala rasanya.

Laper tapi males makan. Lidahnya rasanya pait.
Blaaaaaaaah.

#1 Hai hujan

Pagi ini masih saja kau buat sendu oleh air dinginmu.
Membuatku betah berlama-lama meringkuk dalam selimut tebal, sambil mendengarkan lagu-lagu kesayangan.
Bahkan mataharipun mengalah untukmu. Memberikanmu banyak waktu untuk berlama-lama menyentuh bumi.

Hai hujan..
Sampaikah juga kau ditempatnya?
Sedang apa dia sekarang?
Apakah masih berpeluk manja dengan mimpinya? Ataukah sedang bergerak bebas di luar sana?
Memikirkannya saja sudah membuatku rindu, sangat rindu.

Hai hujan..
Kau datang dari atas langit. Tempat Tuhan berada. Apakah Tuhan menitipkan rinduku melalui kau, untuknya? Semalam aku cerita banyak pada Tuhan. Ketika kau turun. Sampai aku terlelap. Mataku basah. Pipiku basah. Semoga Tuhan benar-benar percaya semua ceritaku semalam. Sehingga bisa titipkan pesanku untuknya melalui kau.

Hai hujan..
Aku rindu masa kecilku. Aku rindu bisa berlari bebas ke arahmu. Menari gemulai bersamamu. Tertawa sambil memejamkan mata. Membiarkan tiap-tiap airmu membelai manja wajahku. Dan kau tahu? Aku ingin sekali bisa seperti itu lagi. Berlari keluar bertemu denganmu. Biarkan kau basuh segala gundah. Biarkan kau hapus segala resah. Biarkan kau padamkan segala amarah.

Aku rindu dia, hujan. Meskipun sebagian diriku marah padanya, tetapi sebagian lainnya justru merindunya. Seperti halnya kau yang merindukan bumi di kala musim kemarau. Menjauh darinya kufikir akan membuat segalanya menjadi baik. Sepertinya memang begitu. tetapi hujan, tahukah kau kalau rasanya ada hal besar yang hilang dari hidupku belakangan ini?
Apakah hanya aku saja yang merasakan ini, hujan?

Hai hujan..
Bisakah kau juga sampaikan padanya tentang orang yang menggangguku beberapa hari ini? Biasanya dulu dia yang tenangkan aku, mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tapi sekarang kan dia sudah tidak tahu, dan tidak pernah tahu lagi kalau aku sangat ingin langsung mengadu padanya tiap aku merasa takut. Kau tahu kan hujan suaranya ketika sedang tertawa? Seperti meledekku. Tetapi suara tawanya itu yang selalu kurindukan tiap kali aku merasa jengah dengan segala jarak yang ada saat ini.

Hai hujan..
Aku belajar banyak kata sejak aku mengenal huruf. Tapi tahukah kau? Hanya ada 2 kata yang saat ini memenuhi benakku. Namanya, dan rindu..

Ini rasanya..

Kaya pengen ketemu, trus nonjokin orangnya sampe puas.
Biar dia tau sedikit gimana rasanya kesel yang numpuk.

Friday, January 13, 2012

Mbulet

Kangen sampe bikin nangis. Sesegukan. Padahal yang dikangenin juga belum tentu peduli. Padahal yang dikangenin bisa aja malah lagi kangen sama yang lain lagi.

Yah, mau gimana lagi :(

Velodrome

Pertama kali ke kawasan pulogadung ngga sendiri. Ngga berani, karena belum pernah. Tapi setelah itu, beruntung punya jalan lain untuk bisa sampe ke kawasan industri itu. Tanpa harus lewat jalan raya rawamangun. Tapi tadi, terpaksa lagi buat kembali melewati jalan lurus itu. Yang tiap beberapa meternya ada halte busway.

Halte Velodrome.

Pernah bolak balik disana. Ada 1 lagi halte, lupa namanya. Entah balai rakyat atau apa. Letaknya persis di seberang GOR.
Pernah ketawa ngga bisa berenti disana. Pernah nunggu bis disana, dan berdoa kalau bisnya ngga apa-apa kalo ngga dateng.
Pernah liat ekspresi muka ngga terima karena dikasih tebak-tebakan yang garing. Berusaha setengah mati ngeles, tapi tetep aja ngga berhasil.

Tapi tetep, ngga ada yang ngalahin halte busway velodrome. Di sana, muncul keputusan kalo ngga perlu ada yang pulang sendiri. Ada keputusan buat pulang cepet dengan segala konsekuensi, buat nemenin. Ada tangan yang menjaga dari bahu belakang. Dan di bis, banyak cerita yang terbagi. Yang bikin kita mulai mengenal dan mengerti.

Sore ini, ceritanya udah beda.
Gw cuma bisa lewat aja. Mencoba buat ngga inget makan siang di arion, mencoba buat ngga inget ada yang komplain soal baju, mencoba buat ngga inget soal kemeja batik, soal id card, soal foto di id card, soal p16 yang ngga lewat-lewat, soal tebak-tebakan, soal Damri, PPD, soal berapa kali kita bolak-balik jembatan, soal mas-mas di bis, soal...

Di 101.0 ada lagu In A Rushnya Blackstreet. Di luar ujan gerimis.
Di balik rusuk, mendungnya lebih parah.

Monday, January 9, 2012

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana,
Ketika bisa bangun pagi, berangkat kerja tanpa macet, sampai kantor disapa hangat oleh siapa saja yang ada di sana.

Ketika bisa pulang kerja dengan masih sempat melihat matahari sore.

Ketika bisa memberikan tempat duduk kepada orangtua di bis.

Ketika bisa menghemat makan siang.

Ketika mendapat sms dari bank, tanda gajian.

Ketika sebuah keluarga menggelar tikar di tepian pantai. Berbagi cerita. Berbagi makanan.

Ketika masih bisa tertawa dan melempar canda bersama teman-teman.





Dan bahagia itu sungguh sederhana,
Jika kau ada dan tidak pernah memaksaku untuk pergi.

To Be or Not To Be.

[Posisi udah cakep di kasur. Plus selimut. Sambil dengeri lagunya Naif, Dimana Aku Disini]

'Kau yang slalu bilang slalu bilang, tuk tetap aku disini'

Beberapa hari ini, lagu ini yang lagi sering gw puter berulang-ulang. Sambil bengong. Sambil nerawang pikirannya. Tapi tenang, ngga nangis.

Its all about what God wants from me.
For the sake of balancing life or every kindness on earth, gw tekankan bahwa ini ngga semata-mata soal hati.

Kadang suka ngga ngerti aja ini idup mau dibawa kemana. Giliran pengen itu, adaa aja ngga bisanya. Giliran pengen ini, adaaa aja ngga bolehnya. Trus jadi bolehnya yang mana?
Apa Dia sengaja 'mainin' kita?
Atau justru kita sendiri yang belum ngerti bener diri kita sendiri?
Belum tau, sebenernya kita maunya apa.
Atau mungkin, tentang bagaimana kita memainkan pilihan-pilihan itu dalam hidup kita sendiri.

Let's make some example. Ngga usah jauh-jauh. Gw aja deh..

My future.
All I want to be in the future is to be a housewife. Waiting for my husband come home, preparing breakfast, dinner, beres-beres rumah, belanja bulanan. That's all.

Mom to be.
Gw mau punya banyak anak! Gw mau jadi ibu siaga buat anak-anak gw. Gw mau jadi orang pertama yang selalu ada di saat mereka butuh. Gw pengen jadi ibu yang bisa dibanggain sama anak-anak gw.

Partner in crime for every jails.
gw pengen jadi temen yang baik buat setiap raga yang membutuhkan *cailah* gw rela ditelpon tengah malem buat dengerin temen gw yg curhat berdarah-darah dan besok mending kiamat aja.

Being a place called home.
Gw pengen dianggep sebagai 'tempat pulang' sama pasangan gw. Sejauh apapun dia pergi, dia akan cari gw sebagai rumahnya.

Hal-hal diatas adalah rencana-rencana hidup yang pengen banget gw dapet. Kenapa gw bisa milih buat hal-hal itu? Jawabannya adalah karena selama gw hidup 23 taun 7 bulan belakangan, hal-hal itulah yang gw rasa paling ideal buat gw. Dengan segala pengalaman baik buruknya, terciptalah rumus sedemikian rupa.
I want to be that person.

Susah?
Banget.
Give up?
Ntar dulu..

Kalau pada akhirnya sampai hari ini gw masih keukeuh mau jadi kaya yg diatas tadi, itu adalah pilihan gw. Atau sebaliknya, ketika nanti ternyata gw merubah rencana hidup gw, itu juga pilihan gw.
Terus Tuhan adanya dimana?


Di setiap proses gw menentukan pilihan.
Di setiap gw ngerasa ada di persimpangan dan bingung buat milih.
Di kala gw ngerasa pilihan yang ada di depan mata, ngga ada yang enak buat dipilih.

Bapak gw bilang, hidup ini tentang pilihan. Dan setiap memilih, pasti ada konsekuensinya. kalo gw, biasanya milih berdasarkan konsekuensi yang paling bisa gw jalanin. Dan itu ngga selalu pilihan yang berakhir bahagia dengan tepuk tangan plus backsound lagu disini senang di sana senang dimana-mana hatiku senang.

Intinya,
To be or not to be is in our hands, dear.
Gw juga ngga mau nanti pada akhirnya nyalahin orang lain atas pilihan-pilihan yang gw ambil.
Its all about our life. Our choices.

Terus kalo gw ternyata ngga dipilih sama orang lain? Itu mah lain urusan. Dia aja yang ngga beruntung ngga jatuhin pilihan. Moreover, I'm not an option. I'm the answer *azek*

Baiklah, mulai ngalor ngidul ngga keruan. Kita sudahi saja kalau begitu.
Selamat menentukan pilihan!
:)

Sunday, January 8, 2012

Ingat ya :)

Ketika suatu hari nanti aku ternyata diizinkan untuk dicintai dan mencintaimu, satu hal yg akan kulakukan adalah menghambur ke arahmu dan memelukmu erat.
Sangat erat.
Dan tak ingin kehilangan lagi..

Hari ke enam..

Gerimis masih malu-malu membasahi sketsa alam di hadapanku. Membiaskan embun pada kaca jendela. Membuatku semakin erat memeluk kedua tungkai kakiku.
Dingin di luar sana, pasti.

Kau sedang apa?
Aku sangat rindu..

Friday, January 6, 2012

Untukmu Yang Untukku..

Menggengam rindu sejak kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi.
Rasanya seperti ada sepojokan yang kosong.
Meminjam aksara yang telah ada, tapi rasanya tak akan pernah cukup.
Ini yang tak pernah terfikirkan oleh perangkai kata manapun. Di kala huruf-huruf itu tetap saja tak memiliki arti, tak secuilpun menggambarkan apa yang terdetak, apa yang mengalir di balik rusuk.


Berharap ada kata di atas rindu.
Berharap ada kata lebih luas dari rindu.
Berharap ada kata lebih dalam daripada rindu.

Senyummu.Bijakmu. Dekap hangatmu.
Itu yang akan selalu aku tunggu di sini.

Mungkin saat ini kita sedang mengembara di jarak yang Tuhan tentukan. Tapi aku selalu tak sabar menunggumu di ujung garis sana.
Menyambut senyummu. Menyambut genggammu. Melepaskan semua rindu ini.

Suatu hari nanti.
:)
 

Template by BloggerCandy.com