Pages

Saturday, April 12, 2014

Hai!

Hem. Tes tes *ketok ketok mic*

Terlalu banyak hal terjadi selama beberapa bulan ini. Jadi cukup lama juga ngga ada waktu nulis. Ada sih, nulis report. Pft.

Ini baru bulan ke 4 di 2014 tapi rasanya sudah lemayan lelah. Tapi senang. Tahun ini ngerasain tahun baruannya di Masjid Nabawi, Madinah. Such a rare chance, huh?
Yes, it was a holy trip. More than that, it was a very meaningful moment to me, to my life, to my days after.

Beware of what you asking for to God. He will answer those prayer in a very unpredictable ways.
Very unpredictable.
Fyuh.

Work life?
Hmm, lemayan juga. Baru dapat bonus tahunan. Bisa buat ganjel-ganjel tabungan.

Love life?
Please skip.

Family?
Still to try to get used of my dad's absence because of his duty for every 2 weeks.

Health?
Ehm, proudly saying that I take 2-3 times to exercise. Me anak gym bok ih waw kan yes?

Friendship?
One of my very bery best person got engaged last month and I feel very extremely happy. OK I was lying.
She is my best friend. I can tell anything to her. She and her family are so so so so so kind to me.
And now she is on her way to be someone else's wife. Lil bit insecure, afraid that I'm gonna lost her. Okelaaah lebay.

Age?
I don't remember about being 26 six this year. Still single is the new sexy tho.

Hokaylah. Itu sahaja sekelebat cerita penting penting ngga penting dan ngga genting.
Salam manis selalu dan selamat berakhir pekan dengan orang-orang tersayang.

Friday, November 22, 2013

Tipikal susah move on.

Maka jadilah kembali ke lapak lama. Ya sebenernya ngga ngaruh juga sih ya mau di lama atau di baru. Dua-duanya juga tetep lagi ngga diisi tulisan. Sebenernya banyak yang pengen ditulis. Banyak yang menarik. Tapi apadaya, kadang kalo di angkot pas pulang kerja udah ngantuk, laper, atau tiba-tiba orang sebelah bau ketek. Jadilah saya lebih sibuk buat tutup-tutup idung. Eh iya, 4 hari belakangan ini langit lagi cerah cantik banget ya. Setelah sebelumnya hujan badai becyek. Mungkin menyesuaikan suasana hati akuh yang sedang cerah ceria *idih cul*. Tapi tergantung ya, kalo tgl 25 besok ngga jadi gajian sih ya mungkin hati akan berubah geledek petir secara instan.

Apakabar kalian? *sodorin mic* *lalu hening* *lalu disirem air tajin*

Udah ah itu aja. Cuman pengen menyapa. Dan menulis. Dan berkicau. Dan sebelum semuanya semakin kacau, mari kita benar-benar sudahi saja semua ini.

Thursday, October 17, 2013

Pindahan Lapak

Hola! Demi mencari udara baru, saya akan pindah lapak. Kemana? Kesini : kartikasiticul.wordpress.com Kenapa? Kan tadi udah dibilang, nyari udara baru. Serius? Bingit. Minta dijenguk? Ngga juga sih, tapi daripada bengong? See you there!

Thursday, September 12, 2013

Learn, not judge.

Kalo mau belajar dan belum punya duit buat ke Cina, bisa banget kok belajar dari hal-hal sederhana yang terjadi di sekeliling kita.

Contoh, ketika tahun lalu saya jatuh dari motor karena rok terselimpet di jari-jari motor. Akibatnya, tulang clavicula saya patah, harus disambung pen, muka saya sebelah kanan luka, pembuluh darah di mata kanan juga pecah, jadi merah semua mata kanan saya.
Insightnya kan intinya kalo pakai rok dan naik motor, sebaiknya lebih waspada. Itu yang ingin disampaikan sama tragedi menyakitkan tersebut. Tapi tau respon orang-orang?

Ada yang dengan tulus menyampaikan dukungan semangat supaya segera pulih dan pastinya mengingatkan supaya lain kali lebih hati.
Means a lot for me.
Tapi, ada juga yang respon 'lo pake pen? Ih cacat dong? Cakep-cakep pake pen'

Pertama, oke thanks saya dibilang cakep.
Kedua, cacat? Dan haruskah ucapan kaya gitu muncul? Kenapa ngga dia terimakasih aja karena ngga perlu ngerasain sebulan yang menyakitkan setelah dipasang pen?

Yang kaya-kaya gini kadang suka luput dari mata dan hati kita. Emang kita siapa berhak menjudge dan bikin orang lain jadi tambah sedih?

Itu juga yang saya liat dari musibah yang menimpa keluarga Ahmad Dhani. Khususnya si Dul.

Awalnya juga saya agak terpancing dengan kondisi 'dhani itu sombong. Makanya Allah ngasi teguran kaya gitu'  tapi lama-lama jadi mikir sendiri, emang kita siapa berani-beraninya nuduh Allah berkehendak demikian? Berburuk sangka sama Allah? Ih hati-hati deh.

Belum lagi komentar-komentar tentang Dulnya sendiri. Okelah dia di bawah umur untuk bisa bawa kendaraan, tapi itu yang pada-pada komentar, umur berapa pada bawa kendaraan di jalan? Anaknya pada ngga melakukan hal yang sama?
Dan perlu diingat bahwa kondisi Dul itu adalah anak dari orangtua yang bercerai lho.

Yang saya coba sampaikan disini adalah, just shut up your mouth and take a lesson from all the things happened. And be grateful.
You don't have to feel all the pain because of your broken bones, bleeding, spending lots of money, facing the truth that you have your family broken.

Operasi-operasi itu nyakitin. Belum nanti recoverynya. Belum nanti menghadapi kepolisian atau ketika Dul tau jumlah korban. Ngga usah orang-orang hinadina sumpah serapah juga udah jadi hukuman tersendiri.
Buat orang tuanya, yang jadi orang tua pasti tau. Anak demam aja kadang suka kepikiran, apalagi dengan kondisi Dul kaya gitu. Ditambah juga masih harus bertanggung jawab ke keluarga-keluarga korban. Udahlah itu yang komentar, kalian juga ngga membantu apa-apa.

Mumpung dikasih pelajaran gratis, ambil hikmahnya. Benahin diri. Jangan sibuk ngata-ngatain. Kejadian sama dirinya sendiri baru tau rasa nanti.

Wednesday, August 14, 2013

Doa di tahun ke tujuh.

Aku mengamatinya beberapa hari ini kerap agak menengadah sambil memejamkan mata di jam-jam tertentu. Kadang dahinya berkerut, kadang sambil tersenyum, atau memanyunkan bibir bawah layaknya anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.

Tadinya aku pikir dia sudah mulai gila mengingat akhir bulan sudah semakin dekat dan persediaan tabungan sudah semakin tipis.

Jam 2 pagi aku terbangun. Aku melihatnya berkhusyuk pada doanya. Diakhiri dengan sujud yang agak lama, matanya kembali terpejam, dan bibirnya tersungging senyum.

Jam 11 siang. Aku ingin meminjam ipod sambil menunggu makan siang. Lagi-lagi ku temukan dia sedang menghadap jendela, melihat langit sejenak, sambil berkomat kamit entah apa.

Jam 9 malam. Sebagai teman satu kos yang baik, kami suka berbagi makanan. Kebetulan tadi selewat jalan pulang aku membeli sate padang.
Dia sudah di kasurnya sambil duduk, setengah badan sudah terselimuti, memandang ponselnya lalu menangkupnya di dada. Tak lupa berkomat kamit kembali.

Aku sudah puas mengamatinya dan ritual anehnya. Aku ngga rela temanku gila di usia muda. Akhirnya aku beranikan bertanya.

'Sya, gue udah ngga paham deh sama ritual lo belakangan ini. Suka tiba-tiba madep tembok trus kaya ngomong sendiri. Lo depresi? Ada masalah? Cerita dong Sya', aku menunjukkan wajah melas.

Si sableng ini malah senyum dan menjawab, 'Gue percaya Ra, yang datengnya dari Tuhan itu kalo mau diminta ya mesti dari Tuhan langsung. Jam 9 malem disini, jam 7 pagi di sana. Dia baru mulai kegiatannya. Gue doain semoga harinya berjalan dgn baik. Jam 2 pagi disini, disana jam 4 sore. Dia baru selesai kegiatannya. Gue doa semoga apa yang dia dapet dari pagi bisa terserap sempurna. Biar dia makin pinter. Jam 11 siang disini, disana jam 9 malem. Dia udah mau tidur. Gue berdoa semoga hal baik hari itu berlanjut di hari selanjutnya. '

Aku bengong.
'Siapa, Sya?', tanyaku.

Tasya hanya tersenyum. Aku lalu teringat pada seseorang yang beberapa hari lalu berpamitan. Untuk pergi ke benua seberang.

'Ya ampun, Sya. Jangan bilang ini si Dimas? Masih Sya?', aku lantas memeluknya. Pelukannya semakin erat. Aku bisa merasakan. Rindunya masih ada.

September, 2006.
'Ra, itu siapa ya? Mukanya jawa banget, suka senyum gitu, baik kayanya'

'Oh, itu Kak Dimas. 2 taun di atas kita kayanya.'

Dan aku tahu sejak itu Tasya jatuh hati pada sosok Dimas yang sederhana, pintar, dan ramah. Aku jadi saksi ketika dia berusaha mati-matian ikut seleksi masuk senat, atau ketika dia patah hati sepatah-patahnya sewaktu tau Dimas jadian dengan temannya. Tasya bodoh. Cuma bisa diam. Punya rasa tapi ngga pernah berani bilang.

Ini sudah tahun ke tujuh. Entah sudah berapa banyak doanya.

Ini bukan tentang musik yang bernada gesekan biola ataupun petikan gitar. Ini tentang riuh rendah nada di luar indera. Yang memenuhi isi kepala, lantas memainkan perannya masing-masing disana. Ada monolog si pemilik kepala yang diramaikan dengan tanya jawab tak berakhir, ada hela nafas tiba-tiba, ada pula imaji yang berkelana jauh kesana; ke tempat tak teraih raga, yang rupanya tak pernah tertangkap panca indera.

Benak bagaikan goa, memantulkan segala suara, saling bersautan.

Aku matikan lagu kesukaan yang sedang menyala. Suara musik harus kembali kalah lagi kali ini.

Monday, August 12, 2013

Malaikat juga tau, Ibu yang jadi juaranya.

Sepulang dari Thamrin City, Ibu, Adik, dan saya sendiri mampir ke mayestik. Setelah itu kami nunggu metro mini 72 arah ke blok M. Tumben-tumbenan, busnya agak jarang. Mungkin karena masih suasana lebaran.

Udah jam 5 sore, tapi panasnya matahari masih nyengat. Kepala saya udah keliyengan, jadi pasrah duduk nyender di tiang berlambang dilarang parkir. Masih sambil nunggu hal yang sama, jodoh -eh bus 72 maksudnya.

Ada kali 20 menit nunggu, sampe akhirnya Ibu bilang, 'bajaj mau ngga ya 25 ribu ke lebak bulus?'