Friday, January 15, 2016

Hujan.

Satu persatu rintik hujan mulai membasahi wajah kita, dan kita malah semakin tertawa. Kau semakin pacu laju kendara motor, dengan harapan di depan sana mungkin saja hujan mereda. Yang justru terjadi malah kian bertambah deras, dan semakin deras, dan sebelum benar-benar basah, kita menepi.

Semangkuk mie ayam berdua dan es kelapa muda. Hanya basa basi kepada yang punya tempat. Tak enak rasanya berteduh tanpa membeli. Kita mulai membagi setengah-setengah mie. Meski di mangkok yang sama. Padahal kita tahu akhirnya; aku akan melahap lebih banyak. Dan kau akan berpura-pura merasa kenyang supaya bisa aku habiskan hingga suapan akhir.

Selebihnya, kita akan tertawa karena ini dan itu. Aku merapat kepadamu karena rupanya sang hujan tak ingin turun sendiri. Turut bersamanya angin menghempas. Hingga rasanya menerpa wajah ini. Aku tak peduli. Bersamamu, aku hangat.
Dan lagi, kita kembali tertawa.

Di lain hari, kau sudah antisipasi. Ada jas hujan telah kau siapkan. Maka di hari itu kita tak perlu menepi. Kita bisa terus melaju, layaknya barongsai di atas roda dua. Sayup terdengar sekali dua kali teriakanmu karena wajah terhempas air hujan. Dan aku tertawa-tawa sambil menunduk di belakangmu. Mencoba berlindung dari air yang mulai menyelinap pada permukaan jas hujan.

Hujan tak lantas membuatmu enggan menjemputku.
Hujan tak lantas menahanmu untuk memastikan aku tiba di rumah dengan selamat. Bersamamu.

Apakah Tuhan sebegitu baiknya hingga menciptakanmu?

I love you, Pak.

Wednesday, January 13, 2016



Selamat pagi, sayang.

Kali ini aku menyapamu dalam diam. Di hitungan tanggal tiga belas ini, kita justru berjarak untuk semakin mendekat. Adalah lucu bagiku ketika justru aku merasa lebih rapuh jika tergores kata-katamu. Dan aku lebih memilih untuk diam. Tak ingin rasanya meledak-ledak, atau menggerutu. Aku hanya ingin diam. 

Ini proses kita, sayang. Mungkin, para penulis novel roman picisan itu tidak sebenar-benarnya pernah mencinta. Mereka hanya menggambarkan manisnya cinta, indahnya cinta, pucuk mawar yang punya pesona merona. Atau justru mereka mengemas seolah semua tampak sempurna. Tanpa perlu menunjukkan debat dan tengkar.

Namun aku bangga kita punya semua itu, sayang. Kita selalu tertawa untuk hal-hal bodoh, kita marah pada hal-hal tak tercerna akal, kita diam pada saat tak ingin segalanya tambah kacau. 

Perjalanan ini tak mudah untukku sayang. Begitupun dengan dirimu pastinya. Namun kita nikmati saja. Tak ada batu yang begitu saja terletak dan terbangun menjadi pondasi. Seseorang mesti berpeluh, bersandar, menjauh untuk melihat memastikan bangunan sudah sesuai rancangan, lalu kembali mendekat untuk melanjutkan; membangun sebuah rumah impian. Sebuah tempat setelah seharian lelah berkutat dengan kehidupan, sebuah tempat tujuan akhir dan persiapan untuk memulai. Sebuah tempat yang sejauh apapun kita pergi, kita akan selalu kembali untuk pulang.

Jika mengikuti hitungan angka, ini pagi bersejarah kita yang ke 17, sayang. Aku masih ingin mengenalimu lebih jauh lagi, lebih baik lagi. Karena dengan itu, akupun menjadi belajar untuk semakin mengenali diriku sendiri. 

Selamat tanggal tiga belas :)

Tuesday, January 12, 2016

Meracau

Sesuai judulnya, mari kita meracau.

Di h-3bulan lebih beberapa hari ini, belum ada tanda-tanda badan mengurus. Sepele? Banget. Bikin bete? Lebih banget banget. Dulu saya masih bisa becanda soal berat badan. Sekarang, even tau itu becanda, tapi rasanya jadi ngga asik di kuping. Kuping lagi bespren banget sama mulut. Yang ga enak di kuping, mulut langsung bales dendam, ngeluarin kalimat yang kurang lebih sama nyakitinnya.
Impas.

Iya, itu salah satu penyakit yang harus banget disembuhin. Jadi sensian. Entah emang harus dibuat sensi atau sebenernya stimulus bersifat netral tapi karena lagi sensi, jadilah percikan-percikan api amarah.

Selain sensian, saya juga jadi banyak mikir.
Mikirin harga sih udah pasti. Lebih dari itu, persiapan nikah itu bikin saya tambah mikir, 'lu beneran mau nikah, Cul?'
Karena kebanyakan mikir inilah rambut saya jadi tambah banyak rontonya.
Eh ini seriusan.
Ternyata ada di tengah-tengah antara pihak yang maunya beda-beda itu tak seindah yang dibayangkan. Gimana jadi pak polisi yang ada di tengah perempatan kusut. Pasti lebih bikin rambut rontok. Huft.

Selanjutnya, soal perintilan.
So far, urusan catering, foto, souvenir, rias gitu-gitu udah jalan. Ada yang udah setengah jalan, seperempat jalan, atau bahkan dalam tahap niatan. Jangan sedih, urusan liburan abis resepsi malahan yang udah kelar duluan.

Happy? Yes. Nafsu makan bertambah? aku sih yes. Nafsu pengen teriak-teriak ke vendor rese? Banget. Tapi alhamdulillah vendor ngga ada yang rese. Harganya doang yang kadang pengen bikin kayang sambil sikap lilin.

Orang taunya masih 3 bulan lagi. While saya nyautin '3 bulan kalo cuman komentar doang sih emang lama. Sini cobain ikut bantuin biar idupnya ada faedahnya'

Fyuh. Emosi bener kayanya.
Ngga juga sih. Biasa aja. Emosi aja maksutnya, ngga pake banget.

Udah? Udah ah gitu aja. Bhay.

Tuesday, December 15, 2015

13.12.15

Irwandi: sekarang kamu udah bukan pacar aku. Udah catri, calon istri. Jadi aku panggil tri aja ya. Oke tri?

Friday, December 4, 2015

Persiapan

A week to the engagement. Masih kalem.
Sampai akhirnya salah satu temen yang tanggal nikahannya beda sehari kirim gambar yang ngingetin berapa bulan tersisa sampai hari H.
Mulai panik.

Sebenernya saya masih ngga tau sih yang dibilang keriuhan persiapan kawinan itu kek macem apa. Tapi pas bandingin harga foto, trus yang dimau trus mahal, disitu saya merasa gamang. Antara bangga punya selera gambar yang agak bagusan apa gimana. Tiap nemu yang cocok dimata, ujungnya gigit nasi. Nah kemarin pas dikantor liat bridestory, nemu vendor yang hasil jepretannya pas, konsepnya bagus, dan harganya lumayan lah masih nyerempet budget. Dan harga akan naik per Januari. Bzzz

Itu juga tuh yang agak menyita pikiran. Udah akhir taun, biasanya vendor suka pada naik harga pas ganti taun. Jadi kudu gerak cepet tapi sabar buat milah milah vendor.
Maklum, cuman sekali seumur idup yekan.

Oh Lord, still can't believe I'm doing all these. Ketemu Irwandi juga jadi bahasnya 'ini gimana?' or 'udah terima email penawaran dari vendor x belum?' yang berujung pada 'makan roti bakar yuk'
:)))))

Sumanget!
Satu-satu dituntasin dulu. Akhir minggu ini mau ke wedding expo. Semoga nemu keberuntungan disana. Aaaamiiiiin!

Friday, November 27, 2015

Anggep aja kebetulan

Beberapa hari lalu sempet whatsAppan sama temen. Tentang aroma parfum yang ngingetin sama aromanya seseorang. A friend, let's we call it.

Dan tadi, pas keluar kantor, itu muka yang dibayangin keliatan dari jauh. Makin lama makin deket. Makin jelas.
Nahkan orangnya muncul. Padahal ngga janjian, ngga kabar-kabaran. Bahkan udah lama banget ngga ketemu.

Rasanya itu kaya lagi kepikiran pingin sate padang, trus ada abangnya aja gitu lewat.

Saturday, November 21, 2015

Petunjuk

Nomor kartu keluarga dong, Pi

Catet ya. Xxxxx0tigakali2

Hah? 06? Eh gimana?

(ketawa) ah bodoh!

0002?

Iyalah.

0 tiga kali 2. Iya sih bener. Ah yang ngasih petunjuk payah!

Yang dikasih petunjuk bodoh!

Then we laughed.
Jenis komunikasi bapak-anak yang absurd.

 

Template by BloggerCandy.com