Pages

Tuesday, April 22, 2014

Memulai dari akhir.

Hari minggu pagi, ketika saya terganggu dengan getar hp. Getar pertama, saya tutup telinga saya dengan bantal. Getar kedua, saya geser hp menjauh. Getar ketiga, ok, awas aja kalo cuman watsap ngga penting.

Butuh waktu lebih lama buat ngucek-ngucek mata, scroll hp, baca ulang, dan berusaha mencerna pesan di watsap.
Kak Ella meninggal, cul.

Nggak lama kemudian, salah satu teman saya menelfon, juga untuk mengkonfirmasikan kabar yang sama.
Butuh waktu lama buat saya buat bisa mencerna, buat menerima kalau yang namanya Kak Ella udah ngga ada. Semalam. Penyebabnya apa juga saya masih belum jelas. Yang jelas saat itu cuman mandi secepatnya, menuju pasar jumat janjian sama Wuri, untuk ketemuan dengan Hanum di Antam.

Di sepanjang perjalanan saya buka-buka fesbuk, buka profile Kak Ella, dan lihat mulai ada ucapan belasungkawa di sana. Saya cuman bisa menarik nafas dalam-dalam. Lagi-lagi tentang kematian yang siapapun pasti ngga pernah siap. Dalam kondisi meninggalkan ataupun ditinggalkan.
Masih sambil bengong, saya liat di kanan kiri jalan. Ada janur melengkung. Entah siapa yang hari ini memulai hidup baru melalui pernikahan, sedangkan suami Kak Ella juga memulai hidup baru dengan kehilangan, bahkan Kak Ella sendiri juga memulai hidup baru, kembali kepangkuan Ilahi Rabbi.

Selalu ada awal baru disetiap akhir.Perjalan baru di setiap ujung jalan.

Saya liat lagi profile fb Kak Ella. Kak Ella baik, yang jadi tambah cantik pas mau nikah tahun kemarin. Saya bahkan masih merinding lihat foto nikahannya. Kak Ella ngga terlihat sakit, Kak Ella terlihat bahagia. Terus kenapa, ya Allah?

Allah yang punya kuasa, Allah yang punya cerita.
Kebaikan Kak Ella ngajarin saya banyak hal. Kepulangan Kak Ella juga membuka pikiran saya tentang banyak hal. Tentang sejuta pertanyaan kenapa.

Kehilangan uang 50rb aja sedihnya minta ampun. Bete lebih tepatnya. Putus pacar aja sedihnya kaya orang gila. Gimana dengan yang kehilangan rumah karena musibah? Gimana dengan yang harus kehilangan orang yang disayang karena orang tersebut harus kembali ke Tuhannya,

Di atas lantai 1 masih ada lantai 2. Di atas langit masih ada langit.
Yang dipunya sekarang, sangat perlu disyukuri.
Yang lagi diuji, bersabarlah.
Yang lagi seneng-seneng, jangan sombong dulu. Apapun bisa Allah ganti dengan kebalikannya dalam hitungan detik.

Note to my self.

Buat Kak Ella, yang tenang ya Kak di sana. InsyaAllah ngga ada lagi sakit. Allah sayang Kak Ella, disini juga banyak yang doain Kak Ella. Salam buat Kak Nomi ya. Salam juga buat Allah, titip pesen, Ticul nunggu jodohnya.

:)

Saturday, April 12, 2014

Hai!

Hem. Tes tes *ketok ketok mic*

Terlalu banyak hal terjadi selama beberapa bulan ini. Jadi cukup lama juga ngga ada waktu nulis. Ada sih, nulis report. Pft.

Ini baru bulan ke 4 di 2014 tapi rasanya sudah lemayan lelah. Tapi senang. Tahun ini ngerasain tahun baruannya di Masjid Nabawi, Madinah. Such a rare chance, huh?
Yes, it was a holy trip. More than that, it was a very meaningful moment to me, to my life, to my days after.

Beware of what you asking for to God. He will answer those prayer in a very unpredictable ways.
Very unpredictable.
Fyuh.

Work life?
Hmm, lemayan juga. Baru dapat bonus tahunan. Bisa buat ganjel-ganjel tabungan.

Love life?
Please skip.

Family?
Still to try to get used of my dad's absence because of his duty for every 2 weeks.

Health?
Ehm, proudly saying that I take 2-3 times to exercise. Me anak gym bok ih waw kan yes?

Friendship?
One of my very bery best person got engaged last month and I feel very extremely happy. OK I was lying.
She is my best friend. I can tell anything to her. She and her family are so so so so so kind to me.
And now she is on her way to be someone else's wife. Lil bit insecure, afraid that I'm gonna lost her. Okelaaah lebay.

Age?
I don't remember about being 26 six this year. Still single is the new sexy tho.

Hokaylah. Itu sahaja sekelebat cerita penting penting ngga penting dan ngga genting.
Salam manis selalu dan selamat berakhir pekan dengan orang-orang tersayang.

Friday, November 22, 2013

Tipikal susah move on.

Maka jadilah kembali ke lapak lama. Ya sebenernya ngga ngaruh juga sih ya mau di lama atau di baru. Dua-duanya juga tetep lagi ngga diisi tulisan. Sebenernya banyak yang pengen ditulis. Banyak yang menarik. Tapi apadaya, kadang kalo di angkot pas pulang kerja udah ngantuk, laper, atau tiba-tiba orang sebelah bau ketek. Jadilah saya lebih sibuk buat tutup-tutup idung. Eh iya, 4 hari belakangan ini langit lagi cerah cantik banget ya. Setelah sebelumnya hujan badai becyek. Mungkin menyesuaikan suasana hati akuh yang sedang cerah ceria *idih cul*. Tapi tergantung ya, kalo tgl 25 besok ngga jadi gajian sih ya mungkin hati akan berubah geledek petir secara instan.

Apakabar kalian? *sodorin mic* *lalu hening* *lalu disirem air tajin*

Udah ah itu aja. Cuman pengen menyapa. Dan menulis. Dan berkicau. Dan sebelum semuanya semakin kacau, mari kita benar-benar sudahi saja semua ini.

Thursday, October 17, 2013

Pindahan Lapak

Hola! Demi mencari udara baru, saya akan pindah lapak. Kemana? Kesini : kartikasiticul.wordpress.com Kenapa? Kan tadi udah dibilang, nyari udara baru. Serius? Bingit. Minta dijenguk? Ngga juga sih, tapi daripada bengong? See you there!

Thursday, September 12, 2013

Learn, not judge.

Kalo mau belajar dan belum punya duit buat ke Cina, bisa banget kok belajar dari hal-hal sederhana yang terjadi di sekeliling kita.

Contoh, ketika tahun lalu saya jatuh dari motor karena rok terselimpet di jari-jari motor. Akibatnya, tulang clavicula saya patah, harus disambung pen, muka saya sebelah kanan luka, pembuluh darah di mata kanan juga pecah, jadi merah semua mata kanan saya.
Insightnya kan intinya kalo pakai rok dan naik motor, sebaiknya lebih waspada. Itu yang ingin disampaikan sama tragedi menyakitkan tersebut. Tapi tau respon orang-orang?

Ada yang dengan tulus menyampaikan dukungan semangat supaya segera pulih dan pastinya mengingatkan supaya lain kali lebih hati.
Means a lot for me.
Tapi, ada juga yang respon 'lo pake pen? Ih cacat dong? Cakep-cakep pake pen'

Pertama, oke thanks saya dibilang cakep.
Kedua, cacat? Dan haruskah ucapan kaya gitu muncul? Kenapa ngga dia terimakasih aja karena ngga perlu ngerasain sebulan yang menyakitkan setelah dipasang pen?

Yang kaya-kaya gini kadang suka luput dari mata dan hati kita. Emang kita siapa berhak menjudge dan bikin orang lain jadi tambah sedih?

Itu juga yang saya liat dari musibah yang menimpa keluarga Ahmad Dhani. Khususnya si Dul.

Awalnya juga saya agak terpancing dengan kondisi 'dhani itu sombong. Makanya Allah ngasi teguran kaya gitu'  tapi lama-lama jadi mikir sendiri, emang kita siapa berani-beraninya nuduh Allah berkehendak demikian? Berburuk sangka sama Allah? Ih hati-hati deh.

Belum lagi komentar-komentar tentang Dulnya sendiri. Okelah dia di bawah umur untuk bisa bawa kendaraan, tapi itu yang pada-pada komentar, umur berapa pada bawa kendaraan di jalan? Anaknya pada ngga melakukan hal yang sama?
Dan perlu diingat bahwa kondisi Dul itu adalah anak dari orangtua yang bercerai lho.

Yang saya coba sampaikan disini adalah, just shut up your mouth and take a lesson from all the things happened. And be grateful.
You don't have to feel all the pain because of your broken bones, bleeding, spending lots of money, facing the truth that you have your family broken.

Operasi-operasi itu nyakitin. Belum nanti recoverynya. Belum nanti menghadapi kepolisian atau ketika Dul tau jumlah korban. Ngga usah orang-orang hinadina sumpah serapah juga udah jadi hukuman tersendiri.
Buat orang tuanya, yang jadi orang tua pasti tau. Anak demam aja kadang suka kepikiran, apalagi dengan kondisi Dul kaya gitu. Ditambah juga masih harus bertanggung jawab ke keluarga-keluarga korban. Udahlah itu yang komentar, kalian juga ngga membantu apa-apa.

Mumpung dikasih pelajaran gratis, ambil hikmahnya. Benahin diri. Jangan sibuk ngata-ngatain. Kejadian sama dirinya sendiri baru tau rasa nanti.

Wednesday, August 14, 2013

Doa di tahun ke tujuh.

Aku mengamatinya beberapa hari ini kerap agak menengadah sambil memejamkan mata di jam-jam tertentu. Kadang dahinya berkerut, kadang sambil tersenyum, atau memanyunkan bibir bawah layaknya anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.

Tadinya aku pikir dia sudah mulai gila mengingat akhir bulan sudah semakin dekat dan persediaan tabungan sudah semakin tipis.

Jam 2 pagi aku terbangun. Aku melihatnya berkhusyuk pada doanya. Diakhiri dengan sujud yang agak lama, matanya kembali terpejam, dan bibirnya tersungging senyum.

Jam 11 siang. Aku ingin meminjam ipod sambil menunggu makan siang. Lagi-lagi ku temukan dia sedang menghadap jendela, melihat langit sejenak, sambil berkomat kamit entah apa.

Jam 9 malam. Sebagai teman satu kos yang baik, kami suka berbagi makanan. Kebetulan tadi selewat jalan pulang aku membeli sate padang.
Dia sudah di kasurnya sambil duduk, setengah badan sudah terselimuti, memandang ponselnya lalu menangkupnya di dada. Tak lupa berkomat kamit kembali.

Aku sudah puas mengamatinya dan ritual anehnya. Aku ngga rela temanku gila di usia muda. Akhirnya aku beranikan bertanya.

'Sya, gue udah ngga paham deh sama ritual lo belakangan ini. Suka tiba-tiba madep tembok trus kaya ngomong sendiri. Lo depresi? Ada masalah? Cerita dong Sya', aku menunjukkan wajah melas.

Si sableng ini malah senyum dan menjawab, 'Gue percaya Ra, yang datengnya dari Tuhan itu kalo mau diminta ya mesti dari Tuhan langsung. Jam 9 malem disini, jam 7 pagi di sana. Dia baru mulai kegiatannya. Gue doain semoga harinya berjalan dgn baik. Jam 2 pagi disini, disana jam 4 sore. Dia baru selesai kegiatannya. Gue doa semoga apa yang dia dapet dari pagi bisa terserap sempurna. Biar dia makin pinter. Jam 11 siang disini, disana jam 9 malem. Dia udah mau tidur. Gue berdoa semoga hal baik hari itu berlanjut di hari selanjutnya. '

Aku bengong.
'Siapa, Sya?', tanyaku.

Tasya hanya tersenyum. Aku lalu teringat pada seseorang yang beberapa hari lalu berpamitan. Untuk pergi ke benua seberang.

'Ya ampun, Sya. Jangan bilang ini si Dimas? Masih Sya?', aku lantas memeluknya. Pelukannya semakin erat. Aku bisa merasakan. Rindunya masih ada.

September, 2006.
'Ra, itu siapa ya? Mukanya jawa banget, suka senyum gitu, baik kayanya'

'Oh, itu Kak Dimas. 2 taun di atas kita kayanya.'

Dan aku tahu sejak itu Tasya jatuh hati pada sosok Dimas yang sederhana, pintar, dan ramah. Aku jadi saksi ketika dia berusaha mati-matian ikut seleksi masuk senat, atau ketika dia patah hati sepatah-patahnya sewaktu tau Dimas jadian dengan temannya. Tasya bodoh. Cuma bisa diam. Punya rasa tapi ngga pernah berani bilang.

Ini sudah tahun ke tujuh. Entah sudah berapa banyak doanya.

Ini bukan tentang musik yang bernada gesekan biola ataupun petikan gitar. Ini tentang riuh rendah nada di luar indera. Yang memenuhi isi kepala, lantas memainkan perannya masing-masing disana. Ada monolog si pemilik kepala yang diramaikan dengan tanya jawab tak berakhir, ada hela nafas tiba-tiba, ada pula imaji yang berkelana jauh kesana; ke tempat tak teraih raga, yang rupanya tak pernah tertangkap panca indera.

Benak bagaikan goa, memantulkan segala suara, saling bersautan.

Aku matikan lagu kesukaan yang sedang menyala. Suara musik harus kembali kalah lagi kali ini.