Tuesday, October 6, 2015

Drama Kuyup Sore.

Pulang kerja berniat menjalankan amanah. Nyiram taneman. Kata Ibu harus disiram setiap hari.

Pas narik selang, selang copot dari kran. Muncratlah itu air ngga berenti-berenti. Panik. Coba nyumpel pake plastik, ngga bisa. Tutup pake tangan, muncrat kemana-mana. Nelfon sepupu minta tolong. Dia dateng, dan kami kuyup bersama.

Dia pulang nyari bantuan.
Saya hampir nangis depan kran yang ngga berenti kucurin air.

Bapaaaaaaaak!

Pas tetangga sebelah rumah pulang dari masjid. Minta tolonglah saya. Om Uci namanya. Om Uci mau beliin pipa sambungan ke matrial. Ngga lama Ibunya sepupu saya dateng bareng tukang bangunan. Mas Pur namanya. Mas Pur datang, semua senang. Mas Pur bawa pipa sambungan. Akhirnya, kran bisa kembali terpasang.
Tinggal saya yang kedinginan karena kuyup 

Doh Papiheeee, how do I live without you :(

14,9425.2 km

Lagi apa?

Sudah makan belum?

Seringnya kalimat itu yang menjadi pembuka. Salah satu bentuk rindu. Bukan kehilangan. Hanya merasa ada yang hilang, dan itu rasanya tak biasa.

Ribuan kilometer yang terbentang setidaknya membuatku tersadar; rumah ini terlalu besar untuk diisi hanya dua orang. Yang satu rutin berangkat pagi, pulang lewat petang. Sedangkan yang satu kebalikan. Pagi mata masih terpejam, baru beranjak keluar pagar menjelang petang, kembali lebih gelap dari yang pertama.

Belakangan ini aku juga tersadar, bahwa bohlam tak menyala ketika malam tiba itu menyebalkan. Lebih-lebih aku tak tahu dimana letak persediaan bohlam baru, dan sudah terlalu malam untuk sekedar berjalan ke warung belakang.

Hingga hal sepele soal pencarian merk makanan beku tertentu. Yang akhirnya ku ambil saja yang ada di depan mata setelah berusaha mengingat bungkusnya di dekat cucian piring waktu itu. Yang biasanya hanya ku tengok dan menggerutu, kenapa cuma goreng sosis sih?
Tapi kali ini aku rindu.

Ritme tidurku berubah.
Yang biasanya sudah mulai terpejam di jam sembilan, kini paling cepat hampir-hampir mendekati tengah malam. Pernah ada yang bilang padaku bahwa jika kau tetidur, tandanya kau nyaman. Berarti saat ini aku sedang tidak merasa nyaman?
Sudah tentu.

Pantas saja kadang kau sulit memejamkan mata saat sebelahmu sedang tidak dirumah. Atau kau sering misuh-misuh karena aku pulang larut. Di rumah sepi katamu. Dan aku sebal. Aku kan punya acara di luar. Sudah lelah bekerja. Wajar bukan kalau ingin bersantai barang sejam dua jam di luar?
Salahnya adalah ketika sudah tiba dirumah, aku melongok ke meja makan dan disana sudah terhidang masakanmu yang mulai dingin. Namun perutku sudah cukup penuh oleh masakan-masakan resto tadi.

aku rindu, sungguh aku rindu.

Atau ketika aku mulai sekedar menyapu dan mencoba merapikan isi rumah. Pekerjaan yang menurutku menyita waktu istirahatku di hari libur. Namun kemarin aku sangat menikmatinya. Aku menikmati rasanya menjadi kau; yang sambil bernyanyi lalu memeras lap basah, lalu menggosok debu-debu yang menempel di kayu. Atau mendorong-dorong kursi agar cukup bagi sapu untuk mencapai sudut dinding pojokan. Atau naik ke atas bangku untuk mencapai atas kusen jendela. Tempat debu bertumpuk, atau sekedar kotoran cicak.

Dan disaat semuanya sudah mulai rapih, kurasakan pinggangku mulai pegal. Beberapa jam sudah kuhabiskan, aku merasa sudah ada di pencapaian tertinggi. Lalu aku melirik, masih ada dapur, kamar mandi, dan ruang atas yang belum tersentuh. Namun tubuh ini sudah lumayan linu. Lelah.
Jadi ini yang kau rasakan?

Aku rindu, betulan rindu.

Hingga kadang aku hanya merebus mi instan untuk makan siang atau makan malam. Bukan karena tak ada lembaran-lembaran rupiah. Tapi karena rasanya semua sama saja. Hambar.
Aku ingin makan nasi hangat dan kecap, tapi dengan kalian.







Rindu bukan hanya sekedar jarak. Bukan juga karena perbedaan waktu.
Rindu adalah ketika aku mencoba melakukan apa yang biasa kau lakukan namun rasanya berbeda. Tetap tak bisa menandingi suara nyanyian dan gitar yang usianya lebih tua dariku. Tak bisa menandingi riuh cerewetmu di pagi hari, sore hari, atau hanya sekedar karena menumpuknya cucian piring dan cucian baju.
Aku rindu, sungguh rindu.


Lekaslah kembali. Rumah ini terlalu besar untuk hanya diisi oleh dua orang. Yang satu berangkat pagi, yang satunya masih terpejam ketika yang satu pergi.


 

Template by BloggerCandy.com