Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2015

Drama Kuyup Sore.

Pulang kerja berniat menjalankan amanah. Nyiram taneman. Kata Ibu harus disiram setiap hari. Pas narik selang, selang copot dari kran. Muncratlah itu air ngga berenti-berenti. Panik. Coba nyumpel pake plastik, ngga bisa. Tutup pake tangan, muncrat kemana-mana. Nelfon sepupu minta tolong. Dia dateng, dan kami kuyup bersama. Dia pulang nyari bantuan.
Saya hampir nangis depan kran yang ngga berenti kucurin air. Bapaaaaaaaak!Pas tetangga sebelah rumah pulang dari masjid. Minta tolonglah saya. Om Uci namanya. Om Uci mau beliin pipa sambungan ke matrial. Ngga lama Ibunya sepupu saya dateng bareng tukang bangunan. Mas Pur namanya. Mas Pur datang, semua senang. Mas Pur bawa pipa sambungan. Akhirnya, kran bisa kembali terpasang.
Tinggal saya yang kedinginan karena kuyup 

Doh Papiheeee, how do I live without you :(

14,9425.2 km

Lagi apa?

Sudah makan belum?

Seringnya kalimat itu yang menjadi pembuka. Salah satu bentuk rindu. Bukan kehilangan. Hanya merasa ada yang hilang, dan itu rasanya tak biasa.

Ribuan kilometer yang terbentang setidaknya membuatku tersadar; rumah ini terlalu besar untuk diisi hanya dua orang. Yang satu rutin berangkat pagi, pulang lewat petang. Sedangkan yang satu kebalikan. Pagi mata masih terpejam, baru beranjak keluar pagar menjelang petang, kembali lebih gelap dari yang pertama.

Belakangan ini aku juga tersadar, bahwa bohlam tak menyala ketika malam tiba itu menyebalkan. Lebih-lebih aku tak tahu dimana letak persediaan bohlam baru, dan sudah terlalu malam untuk sekedar berjalan ke warung belakang.

Hingga hal sepele soal pencarian merk makanan beku tertentu. Yang akhirnya ku ambil saja yang ada di depan mata setelah berusaha mengingat bungkusnya di dekat cucian piring waktu itu. Yang biasanya hanya ku tengok dan menggerutu, kenapa cuma goreng sosis sih?
Tapi kali ini aku rindu.

Ritme tid…