Skip to main content

welcoming the other one :)

baru bangun tidur, buka ym, dapet kiriman ini:

"Relationship are like glass. Sometimes it's better to leave them broken than try to hurt yourself putting it back together" (Anonymous)


saya cuma bisa senyum *baca: nyari sederetonline.com buat ngartiin trus dengan sotoy nya bikin pemahaman sendiri*
haha. ga segitunya deng.

cuma, maksut si pengirim ngasih ini ke saya masih saya pertanyakan. apakah karena saya terlihat masih belum bisa merelakan kepatahatian kemarin, atau keterlihatan saya ingin punya pacar? *yaelah cul*

oke, bagian seriusnya adalah, quote itu ada benernya juga. mungkin ini jawapan dari Tuhan buat menyadarkan saya (atau pembaca yang lain) kalo your (or our) past, love, or sometimes the relationships, are not worth anymore for being kept or struggled..

di plurk, salah satu temen saya bilang kalo sayang sama cinta aja ngga cukup buat mempertahankan sebuah hubungan (arisage, 2010). saya pun setuju. banyak variabel lain yang turut mempengaruhi, yang justru bisa ngalahin variabel utamanya sendiri.

maka dari itu sayapun berkesimpulan,

just let the invisible hands guide you to the other happiness

:)


Comments

Popular posts from this blog

Dari Nona ke Nyonya

atau dari karyawati menjadi ibu rumah tangga. Keduanya sama-sama butuh proses, sama-sama butuh banyak belajar. Sama-sama butuh ilmu ikhlas. Pernah denger ada temen yang bilang 'pengorbanan lo buat Byan itu luar biasa' Kucuman bisa bilang alhamdulillah. Sambil senyum dikit. Walaupun ada sebagian diri yang sesak. Rasanya pengorbanan itu terkesan ada pihak lain yang merasa tersiksa (haha!) while gw sangat menikmati perjalanan ini. Let me tell you a short (not sure) story then.. Pas jaman-jaman kecil itu, keluarga gw bisa dibilang hidup berkecukupan. Dalam artian, pas mau makan, berasnya ada. Cukup. Ngga berlebih. Walaupun lauknya kadang indomie, somay abang-abang lewat, sop, atau bakso (abang-abang lewat juga). Papihe kala itu punya dompet isinya kartu nama, ktp, sama fotonya Mbak Kakung dan Mbah Putri. Jarang banget gw liat ada duit disana. Yang belakangan gw tau kalo semua gajinya ya udah dikasih ke Ibu. Plus potongan cicilan rumah. Jarak rumah ke kantor kurang le...
 I never thought that loving someone could be this painful.  Diam ketika semestinya bisa berteriak.  Menangis dalam diam ketika semestinya bisa menggerung.  Tetap ada disana ketika semestinya bisa berpaling dan menjauh.  Bukan pisau yang melukai, justru bentakan yang meluluh lantakkan.  Memutuskan untuk tetap bertahan dan seolah tak perduli ternyata bisa sebegitu menggerus hati.  Membuat tangis tak lagi hanya berupa air mata.  Dan bodohnya adalah keinginan itu tetap ada.  Untuk diam-diam mendoakan. Menyisihkan sebagian jerih payah untuk mewujudkan suatu keinginan.  Bukankah itu yang dinamakan mencintai? Bukankah mencintai dan melihat yang dicinta bahagia adalah tujuannya?

Sepotong Rasa dalam Diam #1

Aisya Soraya. Siapa yang tidak mengenal nama itu. Biasa disapa Aya. Mahasiswa tingkat 3 yang cantik, pintar, namun tetap bersahaja. Dia pernah mengikuti kontes kecantikan, dan menjadi juara 2. Pernah pula membintangi beberapa iklan dan hingga kini, masih menjadi presenter sebuah acara berpetualang ke daerah-daerah di Indonesia. Dia satu angkatan denganku. Cuma beda popularitas dan segala kelebihanya tadi. Hehe. Itu sih bukan ’cuma’ ya.