Skip to main content

Akhirnyaa Dataang Jugaaa

kalo udah baca post-an gw sebelumnya tentang anak-anak UNM yang bertajuk Ewako Makassar, nah ini cerita tentang serunya kita, bertujuhbelas orang, jalan ke margo dan karokean di sana..

meskipun kita kehilangan beberapa orang karena pulang duluan atau ngga ikut, tapi kita tetep seneng di ritual karoke dan jalan-jalan bikin satpam jadi super ketat jagain margo city..banyak tingkah soalnya kita..
contohnya ini


ngga lama setelah poto2an, mulailah pak satpam mendekat. Mungkin takut rumputnya dimakan oleh mereka..hehehe

kami juga menjamah panggung yang ada di tengah2 margo itu lho


nah sebelumnya, kita kan karokean, trus abis selesai karokean, kita dengan sopannya minta tolong mas2 nav buat motoin kita.hihihihi



Sebenernya masih banyak banget foto2 lain yang menunjukkan betapa semena-menanya kami ketika sedang berjalan-jalan, tetapi itu foto masih nyangkut sama mereka di sana dan belum di upload sepertinya..
tunggu saja ya kelanjutan ceritanya :P

Comments

Popular posts from this blog

Dari Nona ke Nyonya

atau dari karyawati menjadi ibu rumah tangga. Keduanya sama-sama butuh proses, sama-sama butuh banyak belajar. Sama-sama butuh ilmu ikhlas. Pernah denger ada temen yang bilang 'pengorbanan lo buat Byan itu luar biasa' Kucuman bisa bilang alhamdulillah. Sambil senyum dikit. Walaupun ada sebagian diri yang sesak. Rasanya pengorbanan itu terkesan ada pihak lain yang merasa tersiksa (haha!) while gw sangat menikmati perjalanan ini. Let me tell you a short (not sure) story then.. Pas jaman-jaman kecil itu, keluarga gw bisa dibilang hidup berkecukupan. Dalam artian, pas mau makan, berasnya ada. Cukup. Ngga berlebih. Walaupun lauknya kadang indomie, somay abang-abang lewat, sop, atau bakso (abang-abang lewat juga). Papihe kala itu punya dompet isinya kartu nama, ktp, sama fotonya Mbak Kakung dan Mbah Putri. Jarang banget gw liat ada duit disana. Yang belakangan gw tau kalo semua gajinya ya udah dikasih ke Ibu. Plus potongan cicilan rumah. Jarak rumah ke kantor kurang le...
 I never thought that loving someone could be this painful.  Diam ketika semestinya bisa berteriak.  Menangis dalam diam ketika semestinya bisa menggerung.  Tetap ada disana ketika semestinya bisa berpaling dan menjauh.  Bukan pisau yang melukai, justru bentakan yang meluluh lantakkan.  Memutuskan untuk tetap bertahan dan seolah tak perduli ternyata bisa sebegitu menggerus hati.  Membuat tangis tak lagi hanya berupa air mata.  Dan bodohnya adalah keinginan itu tetap ada.  Untuk diam-diam mendoakan. Menyisihkan sebagian jerih payah untuk mewujudkan suatu keinginan.  Bukankah itu yang dinamakan mencintai? Bukankah mencintai dan melihat yang dicinta bahagia adalah tujuannya?

Sepotong Rasa dalam Diam #1

Aisya Soraya. Siapa yang tidak mengenal nama itu. Biasa disapa Aya. Mahasiswa tingkat 3 yang cantik, pintar, namun tetap bersahaja. Dia pernah mengikuti kontes kecantikan, dan menjadi juara 2. Pernah pula membintangi beberapa iklan dan hingga kini, masih menjadi presenter sebuah acara berpetualang ke daerah-daerah di Indonesia. Dia satu angkatan denganku. Cuma beda popularitas dan segala kelebihanya tadi. Hehe. Itu sih bukan ’cuma’ ya.