Skip to main content

Kita dan segelas es kelapa muda

Sebenarnya kita adalah gabungan dari aku yang suka menggerutu, kamu yang merayu, dan segelas es kelapa muda yang menunggu.
Ceritakan apa saja yang otakmu produksi tentang hari itu. Pasti aku akan pura-pura syahdu. Dan kita akan berujung diam, sambil menyeruput es kelapa muda seharga lima ribu.
Dan sekarang, penjual es kelapa muda itu sudah digusur entah kemana. Aku sedang membunuh waktu, sehingga melangkahkan kaki ke tempat dulu.
Kamu dan hidupmu adalah hingar. Sedangkan hidupku kini terlalu jauh dari bingar. Pernah kulihat beberapa kali kamu sedang menggandeng gadis entah siapa. Dengan tertawa-tawa. Entah apa yang ditertawakan di pagi-pagi buta dengan rambut berantakan dan langkah gontai.
Sepuluh tahun berlalu jika aku hitung dengan kalender. Dan jarak kita semakin jauh saja. Sudah tidak ada lagi cerita tentang kesialan, atau dribble bola basket yang memantul ke dinding sebelah.

Serasa aku berjalan tanpa arah. Sedangkan kamu disana yang entah sedang berbagi es kelapa dengan siapa.

Aku rindu.

Comments

Popular posts from this blog

Dari Nona ke Nyonya

atau dari karyawati menjadi ibu rumah tangga. Keduanya sama-sama butuh proses, sama-sama butuh banyak belajar. Sama-sama butuh ilmu ikhlas. Pernah denger ada temen yang bilang 'pengorbanan lo buat Byan itu luar biasa' Kucuman bisa bilang alhamdulillah. Sambil senyum dikit. Walaupun ada sebagian diri yang sesak. Rasanya pengorbanan itu terkesan ada pihak lain yang merasa tersiksa (haha!) while gw sangat menikmati perjalanan ini. Let me tell you a short (not sure) story then.. Pas jaman-jaman kecil itu, keluarga gw bisa dibilang hidup berkecukupan. Dalam artian, pas mau makan, berasnya ada. Cukup. Ngga berlebih. Walaupun lauknya kadang indomie, somay abang-abang lewat, sop, atau bakso (abang-abang lewat juga). Papihe kala itu punya dompet isinya kartu nama, ktp, sama fotonya Mbak Kakung dan Mbah Putri. Jarang banget gw liat ada duit disana. Yang belakangan gw tau kalo semua gajinya ya udah dikasih ke Ibu. Plus potongan cicilan rumah. Jarak rumah ke kantor kurang le...
 I never thought that loving someone could be this painful.  Diam ketika semestinya bisa berteriak.  Menangis dalam diam ketika semestinya bisa menggerung.  Tetap ada disana ketika semestinya bisa berpaling dan menjauh.  Bukan pisau yang melukai, justru bentakan yang meluluh lantakkan.  Memutuskan untuk tetap bertahan dan seolah tak perduli ternyata bisa sebegitu menggerus hati.  Membuat tangis tak lagi hanya berupa air mata.  Dan bodohnya adalah keinginan itu tetap ada.  Untuk diam-diam mendoakan. Menyisihkan sebagian jerih payah untuk mewujudkan suatu keinginan.  Bukankah itu yang dinamakan mencintai? Bukankah mencintai dan melihat yang dicinta bahagia adalah tujuannya?

Sepotong Rasa dalam Diam #1

Aisya Soraya. Siapa yang tidak mengenal nama itu. Biasa disapa Aya. Mahasiswa tingkat 3 yang cantik, pintar, namun tetap bersahaja. Dia pernah mengikuti kontes kecantikan, dan menjadi juara 2. Pernah pula membintangi beberapa iklan dan hingga kini, masih menjadi presenter sebuah acara berpetualang ke daerah-daerah di Indonesia. Dia satu angkatan denganku. Cuma beda popularitas dan segala kelebihanya tadi. Hehe. Itu sih bukan ’cuma’ ya.