Skip to main content

Makassarku. Makassarnu. Makassarta #26 Oktober 2010

Olrait.
Post-an sebelumnya sebenernya udah agak menyinggung apa yang terjadi di tanggal 26 Oktober 2010. Hari yang penuh keterkejutan. Awal dari 7 hari yang menyenangkan di Makassar bareng temen-temen dari UNM.

Nah, di hari pertama kita dateng, ternyata Makassarnya ternyata terharu gitu (baca: hujan awet). Jadilah saya sama Sessa mondok dulu di kampus UNM, nunggu ujannya berenti. Sebenernya kita juga ngga tau sih mau kemana. Karena kan kami dateng dadakan. Jadi mereka juga bingung. Hehehe. Maap ye.

Walhasil, kita duduk-duduk di kampus. Dikenalin ini itu. Ngobrol ngobril. Oh iya, saya minta dianter ke mall buat beli perlengkapan mandi. Maklum, ngga sempet beli beli juga pas berangkat. Pas ujan reda, kita rame-rame ke Mall Panakkukang (MP) deh. Cuma waktu itu Yass belum dateng, karena beliau lagi ngurus keperluan skripsinya.

Tentang Mall Panakkukang, mmm..mallnya cukup gede banget dan lengkap. Cari ini itu ini itu ada. Sabun cair, sampo, odol, parfum udah dapet. Nah, karena ini hari pertama dateng, saya di sms sama sepupu saya, katanya disuru makan malem di rumah karena udah dimasakin sama istrinya. Yasudah, kita pulang deh. Pas mau pulang, saya liat ada booth McD dan pengen banget minum Milo. Eeeeh Melky ngga percaya gitu deh di McD ada Milo. Diantarlah saya sama dia ke booth McD. Naas, Milo nya abis. Yaudah deh ngga jadi.

Ngga lama kemudian, eeeh ada Yass dateng. Lanjutlah kita ngobrol-ngobrol sambil duduk-duduk dulu. Baru abis itu, rame-rame pada nganterin saya sama Sessa pulang.

Hari pertama, pulang sampe rumah jam 8an kalo ngga salah.
Itu baru hari pertama. Hari selanjutnya? Baca aja ntar :D

Comments

Popular posts from this blog

Sepotong Rasa dalam Diam #1

Aisya Soraya. Siapa yang tidak mengenal nama itu. Biasa disapa Aya. Mahasiswa tingkat 3 yang cantik, pintar, namun tetap bersahaja. Dia pernah mengikuti kontes kecantikan, dan menjadi juara 2. Pernah pula membintangi beberapa iklan dan hingga kini, masih menjadi presenter sebuah acara berpetualang ke daerah-daerah di Indonesia. Dia satu angkatan denganku. Cuma beda popularitas dan segala kelebihanya tadi. Hehe. Itu sih bukan ’cuma’ ya.
 I never thought that loving someone could be this painful.  Diam ketika semestinya bisa berteriak.  Menangis dalam diam ketika semestinya bisa menggerung.  Tetap ada disana ketika semestinya bisa berpaling dan menjauh.  Bukan pisau yang melukai, justru bentakan yang meluluh lantakkan.  Memutuskan untuk tetap bertahan dan seolah tak perduli ternyata bisa sebegitu menggerus hati.  Membuat tangis tak lagi hanya berupa air mata.  Dan bodohnya adalah keinginan itu tetap ada.  Untuk diam-diam mendoakan. Menyisihkan sebagian jerih payah untuk mewujudkan suatu keinginan.  Bukankah itu yang dinamakan mencintai? Bukankah mencintai dan melihat yang dicinta bahagia adalah tujuannya?

Di antara.

 Untuk kesekian kali, kakiku menjejak di dua lingkaran.  Setengah duniaku runtuh, setengahnya lagi tetap merengkuh. Menarik jiwaku kembali menjejak bumi. Karena ada Byantara.  Segores rasa bersalah bolak balik menorehkan rasa. Apakah ini jawaban atas ketidakyakinanku.  Tapi mengapa rasa-rasanya terlalu nyaring jawabannya.  Di kala diri merasa 'oh mungkin sudah saatnya' dan 'apakah aku mampu?' Tuhan punya caraNya sendiri untuk menjawab.  Lagi-lagi hatiku terbelah. Sedihku terpecah. Setengahnya tercampur kelegaan. Namun ada setitik pertanyaan. Apakah sungguh-sungguh aku dianggap belum mampu? Pundakku memang ada banyak yang bertumpu. Apakah karena itu juga Tuhan berikan jawaban ini? Tuntun aku, Tuhan. Jika memang harus menangis, ijinkan, lapangkan. Jika memang sudah ada cerita yang lebih indah di depan sana, kuatkan.