Skip to main content

ah teori..

Teorinya, kalo abis disakitin sama pacar, ya putus ajalah.
Teorinya, kalo udah jadi mantan, yaudah, mantan aja. masih banyak cowo/cewe lain di luar sana.
Teorinya, janganlah jadian sama mantannya temen/sahabat. Biar ngejaga perasaan aja.
Teorinya, sahabat is sahabat. mana bisa jadi pacar?
Teorinya sih begitu. Tapi kenyataannya?

Setiap manusia di dunia ini saya rasa bisa dibilang sebagai ilmuwan karena paling pandai deh urusan berteori a i u e o. tapi giliran disuruh ngejalanin?

Mungkin ibaratnya kaya sebuah pertandingan sepakbola dimana para penontonlah yang lebih pintar dibanding para pemain yang di lapangan. Yang di bangku penonton sibuk berteori ini itu, membodoh-bodohi, tapi yang tau kondisi di lapangan, ya para pemainnya sendiri. kondisi di lapangan belum tentu bisa dipakein teorinya para penonton.

Sebenernya beberapa hari ini saya lagi kepikiran aja tentang teorinya sebuah perasaan. ada yang bilang kalo perasaan itu pure cuma manusianya itu sendiri dan Tuhan yang tau. Jadi kalo ada orang lain yang turut berpendapat, saya ngga yakin yang dikasih pendapat bisa seratus persen ngikutin si teori saran tadi.

Jadi saya berkesimpulan bahwa, kayanya lebih bijak deh kalo kita jadi pendengar yang baik aja, ketimbang ngumbar teori ini itu. Teorinya sih begitu, tapi kenyataannya?
Tau deh.

Comments

Popular posts from this blog

Sepotong Rasa dalam Diam #1

Aisya Soraya. Siapa yang tidak mengenal nama itu. Biasa disapa Aya. Mahasiswa tingkat 3 yang cantik, pintar, namun tetap bersahaja. Dia pernah mengikuti kontes kecantikan, dan menjadi juara 2. Pernah pula membintangi beberapa iklan dan hingga kini, masih menjadi presenter sebuah acara berpetualang ke daerah-daerah di Indonesia. Dia satu angkatan denganku. Cuma beda popularitas dan segala kelebihanya tadi. Hehe. Itu sih bukan ’cuma’ ya.
 I never thought that loving someone could be this painful.  Diam ketika semestinya bisa berteriak.  Menangis dalam diam ketika semestinya bisa menggerung.  Tetap ada disana ketika semestinya bisa berpaling dan menjauh.  Bukan pisau yang melukai, justru bentakan yang meluluh lantakkan.  Memutuskan untuk tetap bertahan dan seolah tak perduli ternyata bisa sebegitu menggerus hati.  Membuat tangis tak lagi hanya berupa air mata.  Dan bodohnya adalah keinginan itu tetap ada.  Untuk diam-diam mendoakan. Menyisihkan sebagian jerih payah untuk mewujudkan suatu keinginan.  Bukankah itu yang dinamakan mencintai? Bukankah mencintai dan melihat yang dicinta bahagia adalah tujuannya?

Di antara.

 Untuk kesekian kali, kakiku menjejak di dua lingkaran.  Setengah duniaku runtuh, setengahnya lagi tetap merengkuh. Menarik jiwaku kembali menjejak bumi. Karena ada Byantara.  Segores rasa bersalah bolak balik menorehkan rasa. Apakah ini jawaban atas ketidakyakinanku.  Tapi mengapa rasa-rasanya terlalu nyaring jawabannya.  Di kala diri merasa 'oh mungkin sudah saatnya' dan 'apakah aku mampu?' Tuhan punya caraNya sendiri untuk menjawab.  Lagi-lagi hatiku terbelah. Sedihku terpecah. Setengahnya tercampur kelegaan. Namun ada setitik pertanyaan. Apakah sungguh-sungguh aku dianggap belum mampu? Pundakku memang ada banyak yang bertumpu. Apakah karena itu juga Tuhan berikan jawaban ini? Tuntun aku, Tuhan. Jika memang harus menangis, ijinkan, lapangkan. Jika memang sudah ada cerita yang lebih indah di depan sana, kuatkan.