Skip to main content

Bukti Kongkrit Bapak sayang Anak

Udah jam 10 malem, dan gw udah nguap2 mau tidur. Gw lantas naik tangga ke lantai atas. Ke kamar.

Pas mau sampe atas, gw dengan segera turun lagi ke bawah.

Bokap gw bingung dan bertanya, ‘Kamu kenapa?’

‘Kecoaaaaaaaaaaaa’, jawab gw sambil nangkring manis di atas sofa.

‘Aaah, ngga apa-apa. Udah tidur sana’

‘Ngga maauuuu. Ntar kalo mba tidur trus kecoanya terbang trus menclok gimana? Ngga mauuuu’

‘Dimana sih emang kecoanya?’

‘Ituu, di ujung tangga atas. Tuh tuh keliatan’ jawab gw sambil ngunjukin, dan emang tu kecoa masih mejeng di tempatnya tadi.

Bokap gw keluar, ngambil sapu lidi. Di uber itu kecoa. Dikeprak. Dan si kecoa pun telentang. Gw rasa sih wafat. Bokap langsung mengeksekusi si kecoa ke tempat sampah.

‘Udah, tidur sanah. Kecoanya udah ngga gangguin lagi..’

Comments

Popular posts from this blog

Sepotong Rasa dalam Diam #1

Aisya Soraya. Siapa yang tidak mengenal nama itu. Biasa disapa Aya. Mahasiswa tingkat 3 yang cantik, pintar, namun tetap bersahaja. Dia pernah mengikuti kontes kecantikan, dan menjadi juara 2. Pernah pula membintangi beberapa iklan dan hingga kini, masih menjadi presenter sebuah acara berpetualang ke daerah-daerah di Indonesia. Dia satu angkatan denganku. Cuma beda popularitas dan segala kelebihanya tadi. Hehe. Itu sih bukan ’cuma’ ya.
 I never thought that loving someone could be this painful.  Diam ketika semestinya bisa berteriak.  Menangis dalam diam ketika semestinya bisa menggerung.  Tetap ada disana ketika semestinya bisa berpaling dan menjauh.  Bukan pisau yang melukai, justru bentakan yang meluluh lantakkan.  Memutuskan untuk tetap bertahan dan seolah tak perduli ternyata bisa sebegitu menggerus hati.  Membuat tangis tak lagi hanya berupa air mata.  Dan bodohnya adalah keinginan itu tetap ada.  Untuk diam-diam mendoakan. Menyisihkan sebagian jerih payah untuk mewujudkan suatu keinginan.  Bukankah itu yang dinamakan mencintai? Bukankah mencintai dan melihat yang dicinta bahagia adalah tujuannya?

Di antara.

 Untuk kesekian kali, kakiku menjejak di dua lingkaran.  Setengah duniaku runtuh, setengahnya lagi tetap merengkuh. Menarik jiwaku kembali menjejak bumi. Karena ada Byantara.  Segores rasa bersalah bolak balik menorehkan rasa. Apakah ini jawaban atas ketidakyakinanku.  Tapi mengapa rasa-rasanya terlalu nyaring jawabannya.  Di kala diri merasa 'oh mungkin sudah saatnya' dan 'apakah aku mampu?' Tuhan punya caraNya sendiri untuk menjawab.  Lagi-lagi hatiku terbelah. Sedihku terpecah. Setengahnya tercampur kelegaan. Namun ada setitik pertanyaan. Apakah sungguh-sungguh aku dianggap belum mampu? Pundakku memang ada banyak yang bertumpu. Apakah karena itu juga Tuhan berikan jawaban ini? Tuntun aku, Tuhan. Jika memang harus menangis, ijinkan, lapangkan. Jika memang sudah ada cerita yang lebih indah di depan sana, kuatkan.