Skip to main content

Mau nulis ini, mau nulis itu

Sebenernya gw suka bercerita dan pengen banget bisa menuangkan ide-ide cerita gw dalam bentuk tulisan. Karena gw ngerasa dalam sehari, gw nemuin banyak banget kejadian-kejadian lucu yang menurut gw, sayang aja kalo Cuma gw rasain sendiri. Pengenlah gw berbagi ke orang. Tapi ternyata gw menemukan sebuah masalah, yaitu kemampuan menuangkan ide-ide di kepala gw untuk kemudian dituangkan dalam sebuah tulisan masih kacrut. Atau malah, ujung-ujungnya gw curhat di tulisan itu. Tapi itu salah ngga sih?

Eum,
Kemaren gw ngebaca sebuah blog yang isinya cerita tentang kehidupan sehari-hari si penulis. Sebenernya isinya ringan aja. Tapi yang gw suka adalah cara yang nulis menyajikan itu buat yang baca. Dan gw, sebagai pembaca, ngerasa terhibur sama apa yang coba dia sampein lewat tulisannya. Selanjutnya setelah membaca beberapa postingannya, gw bisa ngambil kesimpulan kalo ni orang pinter karena bisa bercerita demikian terstruktur dan menarik. Dan itulah yang sekarang ini pengen gw latih.
Jadi kalo dalam prosesnya masih banyak salah, yaa dimaklumi saja yaa.
hehehehe

Comments

Popular posts from this blog

Sepotong Rasa dalam Diam #1

Aisya Soraya. Siapa yang tidak mengenal nama itu. Biasa disapa Aya. Mahasiswa tingkat 3 yang cantik, pintar, namun tetap bersahaja. Dia pernah mengikuti kontes kecantikan, dan menjadi juara 2. Pernah pula membintangi beberapa iklan dan hingga kini, masih menjadi presenter sebuah acara berpetualang ke daerah-daerah di Indonesia. Dia satu angkatan denganku. Cuma beda popularitas dan segala kelebihanya tadi. Hehe. Itu sih bukan ’cuma’ ya.
 I never thought that loving someone could be this painful.  Diam ketika semestinya bisa berteriak.  Menangis dalam diam ketika semestinya bisa menggerung.  Tetap ada disana ketika semestinya bisa berpaling dan menjauh.  Bukan pisau yang melukai, justru bentakan yang meluluh lantakkan.  Memutuskan untuk tetap bertahan dan seolah tak perduli ternyata bisa sebegitu menggerus hati.  Membuat tangis tak lagi hanya berupa air mata.  Dan bodohnya adalah keinginan itu tetap ada.  Untuk diam-diam mendoakan. Menyisihkan sebagian jerih payah untuk mewujudkan suatu keinginan.  Bukankah itu yang dinamakan mencintai? Bukankah mencintai dan melihat yang dicinta bahagia adalah tujuannya?

Di antara.

 Untuk kesekian kali, kakiku menjejak di dua lingkaran.  Setengah duniaku runtuh, setengahnya lagi tetap merengkuh. Menarik jiwaku kembali menjejak bumi. Karena ada Byantara.  Segores rasa bersalah bolak balik menorehkan rasa. Apakah ini jawaban atas ketidakyakinanku.  Tapi mengapa rasa-rasanya terlalu nyaring jawabannya.  Di kala diri merasa 'oh mungkin sudah saatnya' dan 'apakah aku mampu?' Tuhan punya caraNya sendiri untuk menjawab.  Lagi-lagi hatiku terbelah. Sedihku terpecah. Setengahnya tercampur kelegaan. Namun ada setitik pertanyaan. Apakah sungguh-sungguh aku dianggap belum mampu? Pundakku memang ada banyak yang bertumpu. Apakah karena itu juga Tuhan berikan jawaban ini? Tuntun aku, Tuhan. Jika memang harus menangis, ijinkan, lapangkan. Jika memang sudah ada cerita yang lebih indah di depan sana, kuatkan.