Friday, November 22, 2013

Tipikal susah move on.

Maka jadilah kembali ke lapak lama. Ya sebenernya ngga ngaruh juga sih ya mau di lama atau di baru. Dua-duanya juga tetep lagi ngga diisi tulisan. Sebenernya banyak yang pengen ditulis. Banyak yang menarik. Tapi apadaya, kadang kalo di angkot pas pulang kerja udah ngantuk, laper, atau tiba-tiba orang sebelah bau ketek. Jadilah saya lebih sibuk buat tutup-tutup idung. Eh iya, 4 hari belakangan ini langit lagi cerah cantik banget ya. Setelah sebelumnya hujan badai becyek. Mungkin menyesuaikan suasana hati akuh yang sedang cerah ceria *idih cul*. Tapi tergantung ya, kalo tgl 25 besok ngga jadi gajian sih ya mungkin hati akan berubah geledek petir secara instan.

Apakabar kalian? *sodorin mic* *lalu hening* *lalu disirem air tajin*

Udah ah itu aja. Cuman pengen menyapa. Dan menulis. Dan berkicau. Dan sebelum semuanya semakin kacau, mari kita benar-benar sudahi saja semua ini.

Thursday, October 17, 2013

Pindahan Lapak

Hola! Demi mencari udara baru, saya akan pindah lapak. Kemana? Kesini : kartikasiticul.wordpress.com Kenapa? Kan tadi udah dibilang, nyari udara baru. Serius? Bingit. Minta dijenguk? Ngga juga sih, tapi daripada bengong? See you there!

Thursday, September 12, 2013

Learn, not judge.

Kalo mau belajar dan belum punya duit buat ke Cina, bisa banget kok belajar dari hal-hal sederhana yang terjadi di sekeliling kita.

Contoh, ketika tahun lalu saya jatuh dari motor karena rok terselimpet di jari-jari motor. Akibatnya, tulang clavicula saya patah, harus disambung pen, muka saya sebelah kanan luka, pembuluh darah di mata kanan juga pecah, jadi merah semua mata kanan saya.
Insightnya kan intinya kalo pakai rok dan naik motor, sebaiknya lebih waspada. Itu yang ingin disampaikan sama tragedi menyakitkan tersebut. Tapi tau respon orang-orang?

Ada yang dengan tulus menyampaikan dukungan semangat supaya segera pulih dan pastinya mengingatkan supaya lain kali lebih hati.
Means a lot for me.
Tapi, ada juga yang respon 'lo pake pen? Ih cacat dong? Cakep-cakep pake pen'

Pertama, oke thanks saya dibilang cakep.
Kedua, cacat? Dan haruskah ucapan kaya gitu muncul? Kenapa ngga dia terimakasih aja karena ngga perlu ngerasain sebulan yang menyakitkan setelah dipasang pen?

Yang kaya-kaya gini kadang suka luput dari mata dan hati kita. Emang kita siapa berhak menjudge dan bikin orang lain jadi tambah sedih?

Itu juga yang saya liat dari musibah yang menimpa keluarga Ahmad Dhani. Khususnya si Dul.

Awalnya juga saya agak terpancing dengan kondisi 'dhani itu sombong. Makanya Allah ngasi teguran kaya gitu'  tapi lama-lama jadi mikir sendiri, emang kita siapa berani-beraninya nuduh Allah berkehendak demikian? Berburuk sangka sama Allah? Ih hati-hati deh.

Belum lagi komentar-komentar tentang Dulnya sendiri. Okelah dia di bawah umur untuk bisa bawa kendaraan, tapi itu yang pada-pada komentar, umur berapa pada bawa kendaraan di jalan? Anaknya pada ngga melakukan hal yang sama?
Dan perlu diingat bahwa kondisi Dul itu adalah anak dari orangtua yang bercerai lho.

Yang saya coba sampaikan disini adalah, just shut up your mouth and take a lesson from all the things happened. And be grateful.
You don't have to feel all the pain because of your broken bones, bleeding, spending lots of money, facing the truth that you have your family broken.

Operasi-operasi itu nyakitin. Belum nanti recoverynya. Belum nanti menghadapi kepolisian atau ketika Dul tau jumlah korban. Ngga usah orang-orang hinadina sumpah serapah juga udah jadi hukuman tersendiri.
Buat orang tuanya, yang jadi orang tua pasti tau. Anak demam aja kadang suka kepikiran, apalagi dengan kondisi Dul kaya gitu. Ditambah juga masih harus bertanggung jawab ke keluarga-keluarga korban. Udahlah itu yang komentar, kalian juga ngga membantu apa-apa.

Mumpung dikasih pelajaran gratis, ambil hikmahnya. Benahin diri. Jangan sibuk ngata-ngatain. Kejadian sama dirinya sendiri baru tau rasa nanti.

Wednesday, August 14, 2013

Doa di tahun ke tujuh.

Aku mengamatinya beberapa hari ini kerap agak menengadah sambil memejamkan mata di jam-jam tertentu. Kadang dahinya berkerut, kadang sambil tersenyum, atau memanyunkan bibir bawah layaknya anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.

Tadinya aku pikir dia sudah mulai gila mengingat akhir bulan sudah semakin dekat dan persediaan tabungan sudah semakin tipis.

Jam 2 pagi aku terbangun. Aku melihatnya berkhusyuk pada doanya. Diakhiri dengan sujud yang agak lama, matanya kembali terpejam, dan bibirnya tersungging senyum.

Jam 11 siang. Aku ingin meminjam ipod sambil menunggu makan siang. Lagi-lagi ku temukan dia sedang menghadap jendela, melihat langit sejenak, sambil berkomat kamit entah apa.

Jam 9 malam. Sebagai teman satu kos yang baik, kami suka berbagi makanan. Kebetulan tadi selewat jalan pulang aku membeli sate padang.
Dia sudah di kasurnya sambil duduk, setengah badan sudah terselimuti, memandang ponselnya lalu menangkupnya di dada. Tak lupa berkomat kamit kembali.

Aku sudah puas mengamatinya dan ritual anehnya. Aku ngga rela temanku gila di usia muda. Akhirnya aku beranikan bertanya.

'Sya, gue udah ngga paham deh sama ritual lo belakangan ini. Suka tiba-tiba madep tembok trus kaya ngomong sendiri. Lo depresi? Ada masalah? Cerita dong Sya', aku menunjukkan wajah melas.

Si sableng ini malah senyum dan menjawab, 'Gue percaya Ra, yang datengnya dari Tuhan itu kalo mau diminta ya mesti dari Tuhan langsung. Jam 9 malem disini, jam 7 pagi di sana. Dia baru mulai kegiatannya. Gue doain semoga harinya berjalan dgn baik. Jam 2 pagi disini, disana jam 4 sore. Dia baru selesai kegiatannya. Gue doa semoga apa yang dia dapet dari pagi bisa terserap sempurna. Biar dia makin pinter. Jam 11 siang disini, disana jam 9 malem. Dia udah mau tidur. Gue berdoa semoga hal baik hari itu berlanjut di hari selanjutnya. '

Aku bengong.
'Siapa, Sya?', tanyaku.

Tasya hanya tersenyum. Aku lalu teringat pada seseorang yang beberapa hari lalu berpamitan. Untuk pergi ke benua seberang.

'Ya ampun, Sya. Jangan bilang ini si Dimas? Masih Sya?', aku lantas memeluknya. Pelukannya semakin erat. Aku bisa merasakan. Rindunya masih ada.

September, 2006.
'Ra, itu siapa ya? Mukanya jawa banget, suka senyum gitu, baik kayanya'

'Oh, itu Kak Dimas. 2 taun di atas kita kayanya.'

Dan aku tahu sejak itu Tasya jatuh hati pada sosok Dimas yang sederhana, pintar, dan ramah. Aku jadi saksi ketika dia berusaha mati-matian ikut seleksi masuk senat, atau ketika dia patah hati sepatah-patahnya sewaktu tau Dimas jadian dengan temannya. Tasya bodoh. Cuma bisa diam. Punya rasa tapi ngga pernah berani bilang.

Ini sudah tahun ke tujuh. Entah sudah berapa banyak doanya.

Ini bukan tentang musik yang bernada gesekan biola ataupun petikan gitar. Ini tentang riuh rendah nada di luar indera. Yang memenuhi isi kepala, lantas memainkan perannya masing-masing disana. Ada monolog si pemilik kepala yang diramaikan dengan tanya jawab tak berakhir, ada hela nafas tiba-tiba, ada pula imaji yang berkelana jauh kesana; ke tempat tak teraih raga, yang rupanya tak pernah tertangkap panca indera.

Benak bagaikan goa, memantulkan segala suara, saling bersautan.

Aku matikan lagu kesukaan yang sedang menyala. Suara musik harus kembali kalah lagi kali ini.

Monday, August 12, 2013

Malaikat juga tau, Ibu yang jadi juaranya.

Sepulang dari Thamrin City, Ibu, Adik, dan saya sendiri mampir ke mayestik. Setelah itu kami nunggu metro mini 72 arah ke blok M. Tumben-tumbenan, busnya agak jarang. Mungkin karena masih suasana lebaran.

Udah jam 5 sore, tapi panasnya matahari masih nyengat. Kepala saya udah keliyengan, jadi pasrah duduk nyender di tiang berlambang dilarang parkir. Masih sambil nunggu hal yang sama, jodoh -eh bus 72 maksudnya.

Ada kali 20 menit nunggu, sampe akhirnya Ibu bilang, 'bajaj mau ngga ya 25 ribu ke lebak bulus?'

Tuesday, August 6, 2013

Sebuah kebetulan.

Beberapa hari lalu aku sempat kepikiran tentang seorang teman yang pernah berhubungan sangat baik. Pernah mengaku sahabatan, dengan embel-embel lebih sayang sahabat ketimbang pacar.

Tentunya kita berbeda jenis kelamin. Menjalani semuanya dengan lagu lama: ngakunya sahabat, padahal..

Sampe suatu waktu dimana hubungan itu selesai.
Itu sahabat pertamaku.
Pertama kalinya juga merasa kehilangan. Hampir 9 tahun sebelum hari ini.

Ya, beberapa hari lalu tetiba teringat.
Dan tadi, kaki rasanya membatu. Aku sampai terbengong. Sedetik dua detik, orangnya terlihat dari kejauhan. Semakin dekat. Dan berlalu.

Dan benar saja. Itu dia.

Monday, August 5, 2013

Make a wish.

'kalo lo dikasih satu kesempatan buat minta sesuatu, apa yang bakal lo minta?'

'hmm, apa ya. Gue mau minta supaya jadi istri lo aja'

'hah? Serius?'

'hahaha. Ya nggaklah. Gue mau minta sate padang aja cukup. Laper nih, yuk ah cari makan'

'dasar stres. Ayok, gue juga laper'

Sang Adam masih tercekat dengan ucapan barusan. Gue kira beneran. Gue udah deg-degan aja. Kalo beneran kan sekalian aja gue jadiin. Tapi ya mana mungkin sih ni anak beneran.

Yang melangkah duluan di depan memejamkan mata sejenak. Hatinya bergemuruh. Nafasnya coba dia atur perlahan. Njir, apaan deh gue barusan. Bisa banget lo Kar menang best actrees sejagat. Makan tuh sate padang.

A message has been sent.

Take care  :)

Sunday, August 4, 2013

Aku ingin.

Aku ingin menjadi tempatmu menumpahkan cerita.
Aku ingin menjadi temanmu berlari di pagi hari.
Aku ingin menjadi temanmu berjalan di taman ketika sore hari.
Aku ingin menjadi temanmu berbagi sepotong kue.
Aku ingin menjadi pengguna sajadah tepat di belakangmu.
Aku ingin menjadi yang pertama mencium tanganmu dan melihat wajah bangun tidurmu.
Aku ingin menjadi saksi ketika kamu bangkit setelah jatuh.
Aku ingin menjadi yang sibuk menyiapkan sarapan, bekal, dan makan malam untukmu dan replika-replikamu.
Aku ingin ada di setiap ucapan doamu.
Aku ingin menjadi rumah bagimu; tempatmu kembali setelah berpergian seharian, bahkan dari tempat terdekat sekalipun.

Aku ingin, dan selalu ingin, tidak pernah tidak, dan tidak akan pernah berhenti.

Ceritakan satu-satu, kita masih punya banyak waktu.

Nafasmu menderu. Matamu binar. Sesekali tersenyum. Kadang terselip suara tertawa.

Celotehmu menggunakan banyak aksara. Mengandung banyak emosi.
Kamu yang bercerita, dan aku yang sibuk berimaji.

Sekotak donat, arak-arakan burung, dan temaram langit sore. Kita habiskan waktu dengan perlahan sekaligus cepat. Bercerita tentang hari ini.

Saturday, August 3, 2013

Selamat jalan.

Fajar baru akan muncul di batas ufuk. Rasa kantukku bahkan tetiba sirna. Aku sudah duduk di dekat jendela, menatap gelapnya langit subuh.

Aku titipkan doaku pada deru mesin kendaraan, pada tiap panggilan tujuan, pada senyum petugas, pada kopi hangat yang kamu teguk pagi ini.

Doa pagiku adalah kamu. Yang menyelinap di mimpi semalam. Yang akan singgah sebentar di benua sana. Yang pasti akan kembali.

Selamat mengudara. Selamat menyentuh langit cita-cita.

Sampai bertemu lagi

Aku mengawali pagi ini dengan agak terperanjat dengan kepamitanmu. berangkat besok, untuk waktu yang kau bilang sebentar. pamit? sebenarnya tidak juga. lebih tepatnya karena ku bertanya dan kau menjawab.

bentukmu itu biasa saja. berantakan malah ketika pertama kali ku lihat. dengan gaya khas mahasiswa. yang tertinggal hingga kini di kepala adalah keramahanmu padaku si anak baru.

jika ada yang bertanya tentang pertama kali, ya kau lah orang pertama yang membuatku merasa tidak terlalu asing. yang padahal ku tahu kau memperlakukan semuanya sama. siapa suruh yang lain merasa biasa saja.

kau juga orang pertama yang selalu ku cari ketika ada perkumpulan. kaus berkerah berwarna hijau dan rambut gondrong sebahu. dan tas selempang. buatku kau adalah kakak. bahkan aku menyebutmu abang, meskipun asalmu dari tanah majapahit.

kau itu manis.

semanis senyum tipis setiap kali semua orang tiba-tiba menjodohkanmu dengan temanku sendiri. semanis air mata yang rembes di ujung mata. semanis aku senang melihatmu senang. semanis aku mencoba mencipta jarak antara kutub utara dan selatan pada magnet.

ini kehidupan, dan yang kita punya sangat berbeda. aku sesekali mengintip hidupmu, sesekali menyapamu, sesekali rindu.

lucu ya.
aku mengagumimu entah seperti apa.
Mungkin seperti anak gadis kepada kakaknya. Atau juga seperti anak SMA yang kepincut seniornya.

Friday, August 2, 2013

Kita dan segelas es kelapa muda

Sebenarnya kita adalah gabungan dari aku yang suka menggerutu, kamu yang merayu, dan segelas es kelapa muda yang menunggu.
Ceritakan apa saja yang otakmu produksi tentang hari itu. Pasti aku akan pura-pura syahdu. Dan kita akan berujung diam, sambil menyeruput es kelapa muda seharga lima ribu.
Dan sekarang, penjual es kelapa muda itu sudah digusur entah kemana. Aku sedang membunuh waktu, sehingga melangkahkan kaki ke tempat dulu.
Kamu dan hidupmu adalah hingar. Sedangkan hidupku kini terlalu jauh dari bingar. Pernah kulihat beberapa kali kamu sedang menggandeng gadis entah siapa. Dengan tertawa-tawa. Entah apa yang ditertawakan di pagi-pagi buta dengan rambut berantakan dan langkah gontai.
Sepuluh tahun berlalu jika aku hitung dengan kalender. Dan jarak kita semakin jauh saja. Sudah tidak ada lagi cerita tentang kesialan, atau dribble bola basket yang memantul ke dinding sebelah.

Serasa aku berjalan tanpa arah. Sedangkan kamu disana yang entah sedang berbagi es kelapa dengan siapa.

Aku rindu.

Friday, July 5, 2013

Gara-gara BBM naik

Jadi harus nyiapin banyak uang 2ribuan supaya ngga ribut sama abang angkot.

Di tarif sementara baru yang ditempel di angkot, dengan sangat jelas tertulis kalo lebak bulus-ut/pd.cabe 4000. Tapi udah 3x semenjak BBM resmi naik, setiap bayar angkot pake uang 10rb atau 5rb, saya harus 'menuntut' kembalian kurang seribu.

Bang, kita sama-sama lah kena dampak naiknya bbm. Abang enak bisa naikin tarif. Lah saya? Gaji ngga naik. Tapi sekeliling naik semua. Janganlah mengambil untung dari keadaan ini. Saya juga tau kok ada penyesuaian tarif dan saya bayar sesuai itu. Kembalian kurang seribu kalo sesekali sih gapapa. Tapi kalo selalu gitu kan cape juga. Itu juga hak saya. Giliran penumpang yang kurang bayar, kita diuber. Tapi giliran abang curang, malah ngotot.
Jangan gitulah bang.

Tuesday, June 18, 2013

-

Ngga pernah nyangka kalau ternyata kesel dan kecewanya ga surut-surut sampe sekarang.

Mungkin karena.
Mungkin gara-gara.
Namanya juga.
Mungkin maksutnya ga itu.
Mungkin ini mungkin itu.

Lesson learned. Ngga semua orang yang kita anggap dekat dan kaya keluarga, akan menganggap kita seperti itu juga. 

Berusaha untuk ngga lebay dan mencerna dengan hati, tapi tetep aja. Kecewa.

Kalo kata temen saya dulu, 'temenan itu kaya pacaran ya ternyata. Bisa putus juga'

Saturday, May 25, 2013

Jawaban.

Kita tak pernah menyangka akan bertemu dengan cara seperti ini.
Seingatku, hanya ucapan-ucapan jahil yang kadang membuatku bersungut-sungut kesal. Atau ledekan-ledekan yang membuatmu selalu mencubit gemas lengan bahuku.

Waktu bukanlah penghalang. Siang malam, selalu ada yang kita bagi. Entah cerita, atau khayalan-khayalan tentang 'bagaimana jika nanti'

Pun bukanlah jarak yang memisahkan. Ratusan kilometer tak seberapa. Tak ada yang jauh. Tak ada yang merasa dipisahkan oleh lautan.

Sampai di satu masa teringat. Tanganmu tak kosong. Ada yang kau genggam.
Dan kita hanya bisa merunduk. Tak ingin menyakiti yang lebih dulu menggenggam. Namun tak sampai hati menggurat sembilu pada diri sendiri.

Sebelum kau kembali kesana, kau titipkan padaku sebuah gelang. Kau bilang, itu kesayanganmu. Dan juga segera menjadi kesayanganku. Seperti penghubung rindu, pengingat rasa.
Di saat aku hanya duduk terdiam memandang, tak hanya wajahmu yang muncul, tetapi juga sayup-sayup wajahnya.

Aku butuh jawaban.
Dan aku dapatkan 
Meski tak sampai seminggu bertahan di pergelangan.
Meski aku harus membongkar semua benda.

Aku menghubungimu.

'Gelang hilang', hanya itu yang terucap.
Kau tidak menjawab.
Hanya diam yg menemani sampai akhirnya hubungan telfon terputus sendiri.
Mungkin kau teringat dengan gurauanku, 'makasih gelangnya. Jadi ngga enak. Aku jaga ya. Tapi kalo ilang, tandanya kita bener-bener ngga jodoh. Kamu balik ke calon pacarmu sana'

Kita temukan jawabannya.

Lagi.

Hanya dengan sapaan singkat, kita mulai pembicaraan di petang itu. Di kala senja sedang asik menjingga, kitapun sedang asik tertawa.

Entah sudah berapa lama kita tidak jumpa. Terakhir kali sepertinya saat aku tidak sengaja menumpahkan kuah bakso di bahumu, lalu kau malah menenangkanku dan berkata 'tidak apa-apa, aku bawa baju ganti kok'
Dan sebagai penebus rasa bersalah, aku pasrahkan setengah mangkuk bakso padamu.

Kau tahu?
Aku masih mendengarkan lagu yang pernah kau dengarkan padaku. Ketika aku hanya menggeleng ketika kau tanya siapa yang memainkan gitar itu. Aku masih ingat ekspresi wajah menyebalkan itu, seolah selama ini aku hanya tinggal di pedalaman desa karena tidak tahu lagu itu.
Aku masih memutarnya hingga sekarang. Di pagi hari, di awalku mau memulai sesuatu, dan dikala aku merasa sedang jatuh serta perlu bangkit lagi.

Kau masih sama. Selalu memulai membuka topik pembicaraan yang tak penting, tapi tak sampai hati juga aku menyudahi. Meski aku hanya membaca huruf-huruf di layar, rasanya aku bisa membayangkan ekspresi wajahmu saat bercerita.
Semoga masih seperti itu, karena ekspresi itu yang selalu membuatku betah memandangmu, ikut tertawa saat kau tertawa, dan menghela napas dalam-dalam saat kau mengantarnya pulang. Sambil menggandeng tangannya. Pamit padaku.

Coba kuhitung.
Aku jatuh hati padamu sejak tujuh tahun yang lalu. Dan kini, aku merunduk lagi. Mencari.

Hatiku jatuh lagi.

Semangkuk soto

'Selamat pagi, Cantik!', sapanya renyah pagi ini.

Aku hanya menyambut sapaannya dengan senyum singkat. Dilanjutkan dengan menghela nafas panjang. Lalu cemberut.

'Kok cembetut gitu? Kan masih pagi'

'Aku capeeeek', jawabku pada akhirnya

'Kenapaa? Jelek ah pagi-pagi udah ketekuk gitu mukanya'

'di kantor kerjaannya ngga abis-abis. Belum lagi si temenku itu lagi nyebelin. Maklum, baru punya pacar. Trus ini gajian juga lama banget deh ditungguin ngga dateng. Aku pengen jalan-jalan. Pengen ke pantai. Atau kemana kek gitu. Yang pasti pengen pergi aja dari sini dulu. Oh iya! Belum lagi nih ya bos aku yang dari Oz juga dateng. Maaaaaak! Seminggu depan bener-bener bikin kumisan deh!'

'Hahaha. Aku baru tau kamu bisa kumisan. Keturunan lele ya?'

'Iiiih nyebelin malah aku dibilang lele!'

'Abis kamu yang bilang tadi kamu kumisan'

"Oiya ya ya. Hahahaha. Tau aaaah aku sebeeel!

'Masih sebelnya?'

'Ngga sih'

'Nah gitu dong. Masa udah ketemu aku masih kesel juga. Udah buruan gih, nanti kamu telat masuk kantor'


'Ra! Oy! Buruaaan. Udah jam berapa iniii. Lama amat makan soto aja. Mangkok sampe diliatin gitu. Pacaran lo sama mangkok sekarang?!', Manda memanggilku.

Aku telah selesai. Dengan semangkuk sotoku di pagi ini. Semacam sebuah pemantik semangat. Mungkin aku sudah benar-benar akan gila. Jika Ia memang benar-benar hidup. Aku pasti akan punya 5.5 menit.
Bercerita.
Dengan semangkuk soto.

Sunday, May 19, 2013

This is not goodbye

Literally. Bcz now you are in her hand.

Yes, we're not talking abot human here. Ini tentang bb akooooh. Kemarin resmi berpindah kepemilikan. Ke tangan ade saya yang hpnya udah ngga mau nyala.

Seperti halnya benda-benda lain yang saya miliki, si bb ini juga punya sejarahnya tersendiri. Kala itu....

Saya baru masuk ke kantor pertama saya (yang sekarang juga masih saya masuki). Posisi saya adalah sebagai HR officer. Yang paling bungsu. Yang levelnya persis di atas anak magang. Yang tetiba jadi macamnya pusat kontak karyawan buat ditanya ini itu. Saya sempet frustasi. Lalu mikir gimana caranya supaya bisa membangun hubungan baik dengan orang-orang disana. Lalu saya putuskanlah untuk beli si bebe ini.

Berbekal uang tabungan, melangkahlah kaki ke gramedia dan beli si bebe disana.
Pertama make langsung bingung gimana cara pakenya. Nanyalah kesana kemari. Sampe akhirnya fix pake si bebe dan si hape cekres. Berasa keren pake 2 hp. Yang kemudian langsung merasa kere.

Sama sekali ngga maksut buat ikut gegayaan pake bebe. Niat saya waktu itu pure buat mendekatkan diri sama orang-orang kantor. Tapi ternyata, si bebe jadi salah satu saksi bisu kehidupan saya 2 tahun belakangan.

Dari mulai dikenalin sama ini itu, deket sama ini itu, berantem, manja2an. Pertemuan. Perpisahan. Kerjaan. Bete. Curhat. Semua. On top of that, it was my own thing that i bought with my own money. Something to be proud of.

Sampe akhirnya saya memutuskan untuk berpisah. Bukan karena ngga cinta. Tapi karena restu orang tua.
Oke, bukan juga.
Karena udah mulai pegel juga si bb sering hang. Dan tergiur buat ganti hape baru *muihihihihihi* dan kebetulan si ade juga hpnya rusak. Jadi lumayanlah. Sempet bingung juga mau dikemanain soalnya.

Meskipun agak beratnya udah nyaman banget sama bbm. Tapi yaudahlah. Masih ada sosmed lain. Let us back to the old style. Saving phone contact. Masih ada juga aplikasi komunikasi lain yang bisa menghubungkan.

So, this me now without si bebe. Plus eyke ganti nomor hape juga.

Terimakasih bebe! Selamat bersenang-senang di tangan si ade!

Monday, May 13, 2013

Short escape - Pari Island

Kalo bahasa aslinya: pelarian 17 anak stres. And it was a very bery great escape! Cant hardly wait for the next one. Thanks teman-temin!

 

Template by BloggerCandy.com