Sunday, July 17, 2011

Semua Tak (akan pernah) Sama :)

..Sampai kapan kau terus bertahan
..Sampai kapan kau tetap tenggelam
..Sampai kapan kau mesti terlepas
Buka mata, dan hatimu.
Relakan semua.

(Semua Tak Sama, Padi)


For those, who still thinking that your past is bonding you and your future.
You are free. Make a walk, set your new life, wake up.

Sunday, July 3, 2011

Rintik Malam

Yang ku tunggu beberapa hari belakangan ini akhirnya tiba juga.
Sentuhan air langit yg memercik hingga ke daratan.
Mungkin itu yg disebut dengan rindu.
Ketika gelap bahkan syahdu menyambut sang rintik. Ketika pekat memeluk erat rasa beku. Ketika senyap menggumam mesra pada setiap asa yang terjaga.
Dinginnya memaksaku meringkuk dalam balutan rasa entah apa. Seperti aku ingin membuat diriku menjadi dua, dan saling berpelukan satu sama lain. Mengerti apa yang dirasakan satu sama lain. Dan mengerti, ini akan berlalu.

Ini tentang waktu. Tentang luka yang membeku. Tentang rindu tak tertuju.

Kau pernah datang, sekejap, tak lebih lama dari ketika kala pertama mataku tak berkedip karena senyum renyahmu.Jika kusebut ini rindu padamu, rasanya tak sampai hati. Aku hanya inginkan kau datang sesekali. Bertingkah lucu dan bercerita. Sekali lagi.

Saturday, May 14, 2011

Pagi-pagi sebenernya ngga asik nih kalo bete-bete. Taaapi, setelah saya pikir-pikir, ini not totally bete. Mungkin justru bisa bermanfo'at.

Gini,
Salah satu hal yang menurut saya penting selain udara atau air ketika di WC adalah teman. Saya, ngga akan bisa bertahan di circle kalo ngga ada temen. Skripsi saya ngga akan selesai cuman karena otak saya dan pembimbing skripsi, tapi juga karena ada temen yang ada ketika saya lagi mumet makjleng.

Saya bersyukurlah pada intinya punya temen-temen yang baik dan bertanggung jawab saat ini. Temen-temen yang selalu mendukung saya, ataupun menghargai lawakan saya, sekalipun itu garing.
Saya sayang sama temen-temen saya. Dan yang perlu saya jelaskan bahwa, sayang bukan berarti selalu membenarkan apa yang kita lakukan. Baik yang saya lakukan atau temen-temen saya lakukan.

Pas saya lagi salah, saya seneng banget temen-temen saya ngomelin. Ngebantah jalan pikiran saya yang salah. Sampe saya akhirnya diem, yang menandakan bahwa saya ngga perlu lagi ngebatu sama jalan pikiran saya. Begitujuga sebaliknya. Saya berteman bukan cuman mau yang baik-baiknya aja. Menegur, ngasih peringatan, atau ekstrimnya saya diemin temen saya, kadang udah jalan terakhir yang saya coba sampaikan ketika ada indikasi bahwa temen saya agak ngaco.

Sorry to say, tapi saya bukan teman yang suka ngeliat temennya berlarut-salah atau bego.
Ketika harga diri temen saya dilukai, saya juga ngerasain sakitnya. Tapi tau apa yang lebih nyakitin dari itu? Ketika temen saya seolah ngga perduli dan masih mau 'menjalani' tanpa inget bahwa dia ngga perlu ngejalanin semua kebegoan itu.
Dan terimakasih kalo pada akhirnya saya cuman dibilang ngga mau ngedukung temen.

Layaknya orangtua, kalo anaknya salah ya diomelinlah. Saya juga pengen begitu dari temen-temen saya. Dan juga sebaliknya. Sehingga pepatah yg bilang kalo temen itu ada di saat suka dan duka bisa kita buktiin.


Mungkin ini bisa menjawab kebingungan seminggu terakhir.

Wednesday, May 11, 2011

couldn't adore you more :)

It was unplanned lunch actually,
And I have tried to walk away.

It was my stomach shaking over and over again,
And it's because of you. Because of the way you say some stupid words.
And we laughed.

What person are you, I really want to find out.
You just killed the time and I didn't realize that.
You are good, nice, and sweet.

Thank you for today,
Thank your for all laugh and the moment.

If you said you are tired,
More than that, I'm exhausted of adoring you in every single day :)

Saturday, May 7, 2011

#intolerance

Dari semua rasa kesel yang numpukpukpuk, saya cuman bisa bilang: cukup tau aja.

Monday, April 25, 2011

nothing else but thank you :)

ibaratnya lagi ada di padang gersang dimana yang ada cuman panas dimana-mana, boro-boro air.
Panasnya gersang bahkan udah sampe kepala, kalo naro teko di atasnya bisa jadi air panas.
Elu, dateng, ngga bawa apa-apa, cuma senyum, telinga, dan tawa.
Elu, dengan sabarnya basa-basi nanya, dan konsekuensinya, lu dengerin.
Ibaratnya, elu itu segentong air es yang diguyur Tuhan dari langit dan jatoh tepat di atas kepala gw. Bikin adem kepala. Bahkan sampe ke jempol kaki.


Untuk beberapa menit yang ngga nyampe jam-jaman, thanks ya :)

Sunday, April 17, 2011

#sebel

Baru kali ini sebel liat semangka.

Monday, April 11, 2011

early warning.

Heh, jangan senyam-senyum depan saya.
Saya ngga tau harus nyembunyiin merah muka saya kemana lagi.

Sunday, April 10, 2011

untuk seorang kawan.

Hai, Kawan.
beranjaklah sejenak dari peraduanmu. kemarilah. lupakan sejenak bayang kelabu yang menggantung di benakmu. mendekatlah. kita ciptakan lagi nada-nada riang tentang hidup. irama penuh warna tentang mimpi. alunan musik bermelodi tentang cinta.

melesap kemana senyummu, kawan? aku rindu lihat goresannya di wajah kerasmu. wajah penuh semangat dan ambisi. wajah penuh cita-cita.
sedang apa jari-jarimu kawan? aku rindu lihat tariannya di atas dawai gitar kesayanganmu.
pergi kemana suara merdumu kawan? aku rindu mendengar mereka melafalkan nada-nada indah penuh makna.

kau tahu kawan?
jika ku berjalan mundur, aku langsung tahu apa yang hilang dari keseluruhannya. dan itu kau. kau itu hebat, asal kau tahu. dengan adanya dirimu, aku bisa bernyanyi, bahkan rembulan seakan ikut menggumam meski dalam cahayanya yang terpejam. ingat bagaimana sang bintang mengerling centil saat kau nyanyikan lagu tentangnya? kau itu nyawa, kawan. untuk setiap benda tak bergerak. untuk setiap hayat yang terselip dalam setiap raga.

untukku, kau selalu hebat, kawan.

ini, dawai kesayanganmu. bermainlah, bersenandunglah. kembalilah menari dan bersorak. aku sungguh rindu untuk semuanya.
dan jika lelah, aku ada disini, kawan. untuk kau sekedar rebah di bahu atau bercerita. aku selalu ada.




bangkit, tersenyum, dan bernyanyilah kembali :)

Saturday, April 9, 2011

#11.28 pm

Meski baru menjejakkan langkah dalam jumlah yang belum terlampu banyak, mataku benar-benar terbuka pada akhirnya.
dan benar saja,
dunia tak selebar daun kelor.

Wednesday, April 6, 2011

merenung di kala bingung.

baru pertama kali ketemu tapi rasanya kaya udah pernah kenal lama sebelumnya.
baru pertama kali ngobrol tapi rasanya kaya ketemu temen lama.
apa ini yang namanya kimia?

Tuesday, April 5, 2011

hari ini..

random.

dimulai dengan hectic kerjaan seperti biasa. pagi-pagi udah dijutekin user karena kandidatnya minta diburu-buruin proses. sedangkan pihak-pihak terkait juga susah dihubungin.udara panas. angin juga panas banget. maafkan hambaMu ini yang banyak ngeluh, ya Allah, tapi tadi cuacanya emang ngga enak banget :(

gempa yang bikin kepala saya puyeng.
tambahan kerjaan yang muncul di akhir-akhir jam kerja.
waktu yang berasa lama banget jalannya.
sering ngeliat angka kembar dan ngga suka udah ngga sengaja liat.
dan yang terakhir,
tadi pengen banget nangis tapi ngga tau sebabnya apa.

bagus banget.

oooiya ketinggalan. efek dari cuaca yang panas banget: migren mulai menggerayangi kepala saya. oh men. semoga besok bangun pagi ngga tambah parah. besok udah janjian mau dateng cantik soalnya. dan yang pasti, saya butuh kepala dan isinya tampil prima besok.

by the way, cuaca emang lagi ngga bersahabat banget ya?
tapi tadi yang di depan musholla bersahabat banget deh *eaaaa*


have a good rest people :)

Friday, April 1, 2011

thank you.

thank you,
for being smart and silly at one time. good recipe to make me laugh everytime i feel down.

thank you,
for being sooo adorable, charming, and cool. framing your face is my hobby lately.

thank you,
for your morning greetings. It's like charging my low strength. Especially on Monday. Yes you are my savior!

thank you,
for your kindness, your smile, your shoulder, your texts, your coffe,
and thank you,
for coming.


i hope, i could still say these thousand thanks, 50 years from now.
:)


Sunday, March 27, 2011

secangkir teh ketika senja.

aku telah berpakaian lengkap. aku pilihkan baju terbaikku untuk hari itu. aku rapikan rambutku. dan sedikit pemoles bibir berwarna pink pucat. hanya sedikit sebagai pemanis.

jam dinding sudah kulirik barusan. detiknya seakan berjalan mundur. lama sekali rasanya menunggu waktu tak kurang dari sepuluh menit. aku tunggu kau disini. di meja teras. dengan secangkir teh hangat kesukaanmu. dengan gula yang tak terlalu banyak. agar tak jadi penyakit, pesanmu. ku benarkan letak cangkir. Ku rapihkan roti kering manis disebelahnya. aku dan paket ini sudah siap menyambutmu.

dan, kau akhirnya pulang. deru kendaraanmu adalah suara favoritku. karena itu pertanda bahwa kau akan kembali. berhamburku ke arahmu. mencium tanganmu, tanda hormatku. Ku amati wajah lelahmu. Dan ku hanya temukan senyum hangatmu di sana. Kau selalu begitu, sayang. Tak ingin buatku khawatir atas juangmu hari ini.

Ku gandeng tanganmu, ku ajak kau ke sofa kesayangan. Kusuguhkan secangkir tehmu. Kau tahu kan? Di dalam teh itu ada rinduku seharian ini padamu. Rinduku pada tiap kata yang akan kau ucapkan, setelah tegukan pertama..

Friday, March 25, 2011

Ketika hati ikut campur urusan skripsi

P: Nah ituuu, gw masih belum dapet deh Cul, apa ya yang enak buat dihubung-hubungin?
T: Naaah Put, ngga semua hal bisa dihubungin. Ada hal-hal yang ngga bisa dipaksakan untuk berhubungan *lantas kepikiran sesuatu*
...


P: Sidang skripsi itu apa aja sih Cul yang ditanyain?
T: Ya layaknya gw yang nanyain, kenapa skripsi lo judulnya ini, kenapa mau neliti ini, pentingnya apa? trus kenapa subjeknya ini? kenapa variabelnya ini?
P: Itu dia cul. Gw tuh orangnya suka ragu-ragu gitu. Suka ngga yakin gitu lho.
T: Kaya waktu sama si itu ya?
...

Sejurus kemudian, perdiskusian skripsi selesai dan diganti dengan:
eh tadi si itu ngapain aja di kantor? masih sama si cewe itu?




andaikan diskusi skripsi juga bisa selancar curhat..

Saturday, January 15, 2011

setangkup rindu.

Pada harum tanah sereda hujan,
pada helai dedaunan yang tergulung sepoi angin,
pada ufuk fajar yang bersemu merah,
pada anak ombak yang berkejaran dengan riang dan memecah di batas pantai,
di situ,
terselip setangkup rinduku. padamu. tak terucap.



Thursday, January 13, 2011

Yang tak biasa.

Adalah hari ini saya puasa, ikut majelis taklim bareng ibu-ibu pengajian komplek, dan mandi dua kali sehari.
Oke, yang terakhir itu menakjubkan. Tapi yang diurutan kedua itu lebih menakjubkan.

Berawal dari ajakan Ibu buat ikut solat tasbih sehabis solat magrib di rumah guru ngaji. Kata Ibu, "Ayo ikut solat tasbih, setidaknya sekali seumur idup. Nanti sekalian buka puasa di sana". Saya sama adek saya sempet enggan, ditunjukkan dengan jam 5 sore kita berdua malah karokean. Namun Ibu tetep gigih mengajak, sehingga yaudahlah ya, jam 6 sore kita berangkat menuju rumah ibu guru ngaji. Oh iya, ditambah iming-iming, 'Nanti dapet makanan buat buka di sana'.

Pas dateng, dikasih kue kotakan. Oh girangnya hati ini. Pas naik ke lantai atas, ngga taunya ibu-ibu yang lain juga udah pada dateng. Makin deket magrib, makin banyak yang dateng. Ada kali 30an lebih. Nah sebelum azan, sang ibu guru ngaji menyebutkan solat apa saja yang akan kita lakukan nanti. Lalu disebutkan bahwa 'Sehabis solat magrib, kita solat sunah ba'diyah, lanjut ke solat tobat, solat 1000 hajat, solat tasbih, dzikir 1000 hajat sampai azan isya, solat sunnah qobliyah, solat isya, solat sunnah ba'diyah, melanjutkan dzikir 1000 hajat, dan diakhiri dengan witir'. Lalu saya dan adek saya tengok-tengokan dengan pertanyaan yang kurang lebih sama: 'Terus makan kue di kotaknya kapan?' dan ternyata langsung di jawab seketika: Nanti di rumah.

Soalnya ya, kaga ada jeda juga buat makan. Jadi palingan cuman bisa minum air putih. Mau makan juga rempong kan mau ambil wudhunya karena harus misi-misi ke ibu-ibu di belakang. Halah males. Mana bacaan di tiap-tiap solatnya juga panjang-panjang. Eh ngga panjang sih, cuman kan harus diulang, ada yang 11 kali dan itu tiap gerakan.Motivasi yang sempet turun langsung bangkit lagi pas guru ngaji saya bilang, 'Ya moso' mintanya ke Allah banyak, tapi giliran ngasih ke Allah nya medit (pelit)'. Okeh. Saya malu.

Wallahi, saya ikhlas banget tadi ngejalaninnya, cuman fisik ngga bisa bohong. Saya yang hari ini puasa, jadi dingin badannya karena cuman buka pake air putih aja. Dan tadi selesai jam berapa coba? Jam setengah 9 malem. Ampun dije. Mana tetangga saya juga udah cekikikan gara-gara megang tangan saya yang udah dingin. Malah nyuru saya makan aja kue nya daripada pingsan. Yakalideh.

Seperti yang saya bilang, rangkaian solat selesai jam setengah 9. Lewat dikit karena harus salaman ke ibu-ibu di situ, minta maaf lahir batin. Pas udah selesai, saya sama Adek saya langsung chaw chapchus. Di lantai bawah, udah ada yang stand by siap ngasih nasi kotakan. Saya makin ngga sabar langsung pulang. Mana udah keringetan banget. Saya sama adek saya udah ngakak aja, udah pasrah deh sama apeknya badan, yang langsung saya jawab, 'Biar aja apek di dunia, semoga wangsi di surga'. Amin amin amin ya Rabbal Alamin.

Pas di rumah, langsung pada kalap ganti baju dan makan. Menunya nasi uduk, ayam, orek tempe, sama sambel. Tapi nwikmatnya ngaujubileeee. Alhamdulillaaaaah. Terus Ibu saya jadi agak-agak ngerasa bersalah dan langsung bilang 'Ibu juga heran kok tadi banyak banget solatnya. Padahal biasanya cuma solat tasbih aja'. Ah sudahlah Bu.

Tapi saya seneng juga sih bisa ikut rangkaian solat tadi. Solat tobat, solat 1000 hajat, solat tasbih. Mudah-mudahan diterima sama Allah. Jadi bisa terkabul deh doa-doanya. Amiiiiiiiiiiiin :D

Tuesday, January 11, 2011

men(jadi yang ke)dua.

Ketika hatiku bernalar, maka ia akan semakin menendang jauh rengkuhan logika, dan aku akan semakin dekat pada pelukmu, yang memeluk dua hati.



Pulang.

Sore ini mengingatkanku pada beberapa bulan yang lalu. Saat kau datang dengan wajah masam dan serentetan sumpah serapah meluncur dari bibirmu yang menghitam. Pasti terbakar tembakau. Atau mungkin ganja? Entahlah. Yang pasti, sumpah serapah itu akan berhenti sebentar ketika kau duduk di sampingku dan menghela nafas dalam-dalam. Dan tebakanku benar.

"Laki itu brengsek! Sialan. Gua lagi cape-cape nyuci bajunya yang setumpukan, eeeh dia malah dateng bawa cewek. Sialan. Kurang ajar!" katamu tergesa-gesa sambil menyulut batang rokok.

tapi kau tetap betah.

"Ogah gua nyuci lagi. Ogah gua masakin. Ogah gua ngelayanin laki kaya dia. Brengsek. Gua udah susah-susah dandan, rela duit gua dipake dia, eeeh malah begitu dia. Dia kira gua lagi kaga ada di rumah tuh makanya dia berani bawa cewek masuk rumah."


Kami terdiam. Karena aku merasa tak perlu bicara apapun. Semoga cukup baginya telingaku bersedia mendengarkan.

"Gua udah kaga tahan dah begini mulu. Setan. Lo buruan beresin baju lo. Kita pulang ke Tasik ntar sore. Gua udah kaga sudi balik ke rumah itu."

Aku menoleh. Akhirnya. Menatap wajahmu dari samping. Mencari kesungguhan atas kalimatmu barusan.

"Beneran?", tanyaku.

"Iya. Udah beresin baju lo sana."

"Yakin mau ninggalin Jakarta beneran?"

"Iya. Yakin. Ngga percayaan lo sama emak lo sendiri." Kau merubah posisi duduk menghadapku, membuang rokok yang sudah akan padam, lantas memegang pipiku, mengusap rambutku. "Lagian gua kasian sama lo. Lo ngga jelas begini nasibnya. Sehari-hari mana cuman beginian doang, ngamen, luntang-lantung kaga jelas. Gua tau gua salah sama lo, malah ngebiarin lo tinggal di tempat beginian. Padahal cuman lo yang gua punya."

"Udahlah, Mak. Rio baik-baik aja kok. Lagian ngamen juga udah mayan banget buat seharian."

"Iya tapi kan gua emak lo. Harusnya bisa ngejagain lo, ngasih lo makan. Gua ngerasa dosanya berlipet-lipet sama lo. Mana bapak lo juga ngga ngga tau dimana."

"Lebih tepatnya ngga tau siapa kan, Mak?"

Kau malah tertawa. "Udah bisa balikin omongan gua lo ya."

"Ngga, Mak. Rio udah ngga peduli siapa Bapak Rio. Emak aja udah cukup buat Rio."

"Haaah, anak gua dah emang paling juara. Udah gih sana beresin baju lo. Gua tunggu sini."

Aku girang dalam hati. Sebelum beranjak dari sana, aku menoleh sekali lagi, "Emak beneran bakal pulang sama Rio kan?", kau menjawab dengan anggukan semangat ditambah sebatang rokok baru di bibir.

***


Bangku taman tadi sudah berganti penghuninya. Ku sapukan pandangan mataku ke sekeliling. Aku tersenyum pada tempatku berdiri sekarang. Ku tahan dorongan air mata yang mendesak keluar. Tidak. Tidak boleh, katanya lelaki pantang menangis.

Aku menghela napas dalam-dalam dan berjalan menuju arah berlawanan. Akan kembali merapikan bajuku pada kardusnya lagi.

"Yo, tadi emak lu disamperin laki-laki. Gua pikir mau diapa-apain. Gua udah mau pasang badan aja. Eeeh kaga taunya tu laki ampe sujud-sujud kaya minta maap. Terus pergi dah sama emak lu. Girang bener emak lu.", Bang Rojak, tukang jualan minuman, yang memberi tahuku.


Ya, aku sudah tahu.
Ini sudah yang ke enam kalinya.


Monday, January 10, 2011

Benci untuk mencinta.

Demi senja, pantai, dan kelunya rasa yang merantai kata dengan sejuta makna. Aku ingin berlari dan kembali. Melabuhkan rinduku di ujung dermaga. Membisikkan cintaku lewat kelopak mawar putih dan surat yang kusisipkan di jendela kamarmu. Masih seperti tahun kemarin. Hanya melihatmu dari jauh dan bergegas pergi tanpa pamit. Aku benci hanya mampu mencintaimu seperti ini.


One message received.
-my lovely-
sayang,kamu pulang ke jakarta jam berapa? Kabarin ya biar aku bisa jemput di bandara.

Friday, January 7, 2011

Fun day of 3!

Judulnya apa banget deh.haha. Tapi ngga papah, 3 itu cukup *lokal*

Hari ini saya senaaang. Mengawali hari dengan mengunjungi kampus buat menjenguk Alitta yang sekarang sudah berjudul Alitta Gracianty Adimidjaja, S. Psi(sementara). Selamat ya Neng Bulbulitawatiningsih.cups. Selepas kegembiraan yang diwarnai dengan keceriaan dan foto-foto itu, saya dan Hanum beserta Sessa mempunyai banyak waktu luang sehingga kami memutuskan untuk bepergian bersama. Lalu tuing! Saya dan Hanum memiliki niat mulia yang sama: nonton Bang Johny Depp di The Tourist. Ah cakep dah.

Alhasil, kami bertigapun melesat dengan segera ke penvil.
Fyi, semenjak si Hanum itu bergelut dengan studi S2nya, kita itu udah jarang banget bisa jalan bertiga. Palingan saya sama Sessa, atau baru kemarin, saya bisa makan siang bareng Hanum. Makanya tadi seneng banget akhirnya bisa jalan bertiga lagi.

Well, sebenernya film the touristnya sih 'ringan' banget ya. Satu hal yang bisa bikin itu jadi berbibit bebet bobot adalah karena ada bang Johny di sana. Adung biyung, saya kelepek-kelepek deh liat itu orang. Matanya itu lho mamen. Ekspresi mukanya juga. Ibaratnya mah esgrim di rebus. Meleleh..leh..leh. Itu juga si Angelina Jolie meuni geulis pisan. Hadeh. Saya sama Sessa juga malah jadi ngeributinnya, 'Aduuuh, cakep banget yak' atau 'Idiih, dari belakang aja cantik'.

Bahkan selesai filmpun, saya jadi kaya orang keserupan. Kegirangan entah mengapa. Pokoknya girang dah ngeliatnya. Kalo si Hanum bisa nebak ending ceritanya, tidak begitu dengan saya. Maksutnya, saya terlalu fokus pada tiap cerita di filmnya, jadi ngga peduli deh mau ending kaya apa :p

Kelar nonton, kita bertiga kelaparan. Saya ngga laper-laper banget sih, cuman karena lagi di penvil, saya jadi makin penasaran sama Ramen yang pernah diceritain sama temen saya. Katanya porsinya banyak dan pedes. Aaah, jadi ngiler. Setelah berhasil membujuk Hanum dan Sessa, kita makan deh di resto Jepang itu. Tadinya saya sempet ragu, apa saya bisa ngabisin ramen yang katanya buanyak itu. Pas itu ramen dateng, saya deg-degan. Ini kali kedua saya makan ramen beneran, jadi udah ngga kaget ada tempayan dateng ke meja. Wanginya maknyuss, dan pas dirasain, oh i fall for that ramen so much! Enyaaaaak. Dan kekhawatiran sayapun sirna. Hahaha. Saya bersolo karir dengan ramen cakep itu dan tandas saja bung ramennya! Entah karena laper atau apa, tapi harga 38ribu sepadan lah dengan kenyang di perut saya. Hanum pesen apa tuh yang roll2an. Sessa pesen set makan yang katsu-katsu gitu. Itu juga pada enak deh pesenannya. Terus pas udahan, mbak-mbaknya ngasih kaya mini dorayaki gitu. Lucu deh. Pas saya makan, rasanya mirip martabak atau kue pukis gitu dah. Enak juga. Tadinya pengen saya minta yang gedenya, cuman demi nama baiklah ya, keinginan itu saya pendam di hati saja.

Puas nonton, puas makan, puas juga menjelalatkan mata di toko-toko yang betebaran di penvil. Alhamdulillah saya ngga tergoda beli apa-apa :D

Selesai dari penvil, kita nganterin Sessa deh ke Lemsaneg (Lembaga Sandi Negara) karena doi punya perhelatan tari di sana. Abis itu, saya turun di lampu merah buat naik bis, pulang. Hanum juga langsung pulang.

Aaaah saya senang sekali lah pokonya hari ini. Terimakasih ya Allah, saya dikasih temen yang begitu baiknya dan begitu gilanya. Semoga kegiatan seperti ini masih akan terus langgeng sampe tua nanti (agak rempong ya cyiiin ngebayangin saya Hanum Sessa) udah nenek-nenek tapi masih doyan jalan bareng.Hehehe. Amiiiiiin :)


Thursday, January 6, 2011

Diam itu emas.

Ibu: Mbak, ini hp nya Bapak ketinggalan. Duh gimana ya kalo ada telfon penting nanti?

Anaknya: Yah, gimana ya.

Ibu: Tadi udah Ibu sms sih ngasih tau hpnya ketinggalan... Eh, kan hpnya ketinggalan ya!

Anaknya: ... *mau nyaut tapi takut kualat*




Wednesday, January 5, 2011

antara lagu dan kenangan.

Cailah bener ye judulnya. Tapi tenang, kenangan di sini artinya luas.

Nah, mari kita mulai *apenye cul*. Iya, hubungan-hubungan mesra antara lagu dan kenangan itu. Jadi gini, saya itu kan penggemar berat musik, walaupun saya dengan legowo mengakui bahwa saya tidak bisa bermusik, apalagi nyanyi. Sendawa aja sember, apalagi nyanyi. Nah, kemanapun saya pergi, hal yang selalu saya bawa selain harga diri adalah seperangkat hp dan handsfree. Di hp saya tercinta itu, saya rasa lebih banyak nyimpen lelaguan daripada nyimpen sms. Nah (lagi), tiap dengerin lagu, biasanya saya sambil menerawang mikirin macem-macem. Atau, kadang kalo lagi dalam kondisi tertentu, biasanya saya suka ngulang lagu yang sama berkali-kali, sehingga terjalinnya suatu asosiasi yang kuat antara si 'moment' dan si lagu.

Misal. Pas saya dengerin lagu Kamu Yang Pertama-nya Geisha, itu memori saya langsung melesat ke Makassar, inget sama salah satu temen saya, si Ika. Soalnya waktu kita karokean, dia yang nyanyiin lagu itu dan suaranya bagus banget. Jadilah setiap saya denger lagu itu kapanpun dimanapun, ya langsung keingetnya dia. Atau misalnya lagu Benci Untuk Mencinta-nya Naif. Lagi-lagi memori saya juga langsung naik pesawat ke Makassar, waktu di mobil menuju Pantai Akkarena bareng teman-teman UNM. Waktu itu soalnya pas ada tu lagu, kita nyanyi bareng-bareng, teriak-teriakan di mobil kaya orang depresi ngga bisa kayang. Atau (lagi) misalnya pas dengerin lagu The Show-nya Lenka. Itu pas saya lagi proses tes di tempat kerja. 3 hari, tiap mau berangkat dan pulang, pasti dengerin lagu itu. Cuman karena pada akhirnya saya ngga lolos, jadinya sekarang saya ngga suka denger lagu. Nah, itu dia jeleknya.

Ngga masalah kalo asosiasinya dengan hal-hal yang enak. Paling sebel kalo saya suka satu lagu nih, tapi ternyata asosiasinya jelek. Kaya pengen tetep dengerin, tapi batin tersiksa karena teringat kenangan yang tak indah. oh nooo, sedihnyo. Kalo udah begitu, jadilah kadang suka keceplosan nyanyi, tapi langsung berenti pas sadar. Hayah. Nyusahin diri sendiri.

Inti ceritanya apa sih jadinya? Haha. Auk saya juga bingung.
Ya intinya sih saya mau bilang kalo saya sangat suka musik dan suka lelaki yang pandai bermusik *lah, ujung2nya tetep ye*. Apapun yang terjadi, saya tetep cinta musik dan lelaguan *kesimpulan yang ngga nyambung*

Udah ah mau bobok.
Amigos porsiempre, ciripa!


kalo season 1 sampe 7 nya udah nonton?

Hanum: Cul, nonton ocean 11 yuk?

Yang diajak Hanum: Hah? apaan tuh?

Hanum: Film, di 21. Bagus loh.

Yang diajak: Yaah, kan gw ngga ngikutin 1-10 nya num.

Tuesday, January 4, 2011

ini lagi kesel ceritanya.

Sepertinya memang harus diakhiri. Apa hayo?
Segala sesuatu tentang masa lalu.

Oke, ini kata pengantar untuk tulisan saya kali ini:
Terakhir kali saya punya hubungan dengan seseorang adalah sekitar 2 taun lebih yang lalu. Di bulan Januari ini, which is sudah masuk ke 2 tahun lebih ini ya, saya udah ngga kepengaruh apa-apa lagi soal si orang itu, berikut apapun tentang hidupnya. Dan saya rasa saya udah ada di tahap itu, melupakan. eh ngga melupakan sih, lebih tepatnya merelakan dan menganggap bahwa oke, itu adalah masa lalu. Sialnya, saya hampir percaya sama diri saya sendiri kalo saya udah ngga bakalan kepengaruh apa-apa. Sampe semalem, ada sesuatu yang bikin saya tiba-tiba ngerasain sesuatu yang ngga enak banget rasanya. Gabungan antara sebel, marah, kesel, dan ya, sedikit cemburu.

Saya juga heran deh. Kenapa ya saya harus masuk ke dalem kategori manusia yang susah lepas dari masa lalu. Maksutnya, ini udah lebih dari 2 taun lho cuuul. Saya ngerti banget ngga akan pernah bisa dan sayanya juga (pada akhirnya sadar) ogah buat mengulang, tapi yang saya ngga suka adalah kalo ada orang-orang yang awalnya ngga tau, terus tau, tapi salah. Saya sebel banget.

Sampe sekarang ini, detik ini, saya masih kesel banget-bangetan. Bukan apa sih, cuman, kesel ngga sih diperlakukan ngga adil? Orang itu ngerti ngga sih kalo dia itu punya peran buat bikin saya akhirnya percaya lagi sama yang namanya 'kepercayaan', tapi pada akhirnya dia juga yang bikin kepercayaan saya ambrol. Kalo buat orang lain, mungkin bakal bilang 'Yaudahlah cul, udah lewat ini'. Iya, udah lewat emang. Tapi mereka dan pastinya si orang itu juga ngga akan pernah tau kalau buat saya, susah banget untuk percaya lagi sama orang baru. Sedangkan dianya? Dengan gampangnya buat ngelupain apapun, dengan alasan 'hidup harus tetep berjalan, yang udah lewat, yaudah lewat'. pret. elu itu jahat, asal lu tau.

Gila ya.
Tadinya saya pikir saya udah bisa bener-bener damai. Tapi ternyata, satu stimulus bisa munculin segala perasaan sebel dan kesel ini.
Saya cuma bisa bilang, 'Cuma Tuhan yang berhak bales semua yang pernah lu lakuin ke gue.'

Yang harus dilakukan besok pagi:

Lipet jaket, masukin ke plastik (lagi). Masukin boneka ke plastik (lagi). Masukin keduanya ke kardus (lagi). Simpen kardus di tempat yang ngga keliatan (lagi) sampai waktu yang tidak terbatas (lagi).

Sunday, January 2, 2011

Mengawali taun 2011 dengan..

Pacar.
Nggak lah bo'ong banget *garuk-garuk tembok*.

Tapi ada yang lebih parah dari itu men. Apa hayo?
1. Ultimatum dari Yang Mulia Ratu Ibu, yang berbunyi, saya harus udah nikah di umur 25.
2. Si Bapak yang kurang lebih mengutarakan hal yang sama, namun plus embel-embel 'Bapak kan udah pengen nggendong cucu, Mbak"

Mampus kan tuh gue.

Oke, mari kita berpikiran jernih dan positif. Anggap aja itu adalah doa baik dari orang tua untuk anaknya. Cuman ketika saya teringat umur saya taun ini udah memasuki 23, jadi agak-agak dug-dug ser gimanaaaa gitu.

Kalo kata temen saya, saya sudah mulai memasuki midlife crisis, yakni masa-masa saya mulai butuh hubungan dengan lawan jenis dan kebutuhan karir juga. Nahkan.
Au ah.





Yesterday(s) and tomorrow(s)

Kalimat yang paling sering terdengar adalah: ‘waaah, ngga kerasa ya udah mau ganti taun’
PrĂȘt. Apenye ngga berasa. Buat saya mah taun 2010 ini berasa banget.

Awal taun ini, dimulai dengan semangat membara buat bikin skripsi sebagai salah satu syarat buat lulus jadi tukang sarjana. Dan semangat itu naik turun nukik nyungsep naik dikit nukik lagi sampe bulan Juni, dimana akhirnya saya bisa kasih hadiah ulangtaun ke diri sendiri dengan bisa sidang sekripsi di tanggal 23 Juni 2010. Well, proses pembuatan sekripsi itu bener-bener pengalaman yang amit-amit ngga bakalan mau saya ulang. Bener-bener mengurasa tenaga, air mata, dan tabungan pastinya. Ya bayangin aja. Saya jadi sering kram karena setres. Dan yang bikin kramnya juga gga penting banget. Cuman karena garuk punggung, atau ngangkat tas, atau nunduk pas mau masuk angkot. Dan setelah sidang+skripsi, semuanya ilang. Saya juga takjub.
Selain itu, skripsi juga sering bikin saya jadi angot-angotan, gampang marah, tumbuh jerawat , banyak makan (halah ini mah gga skripsian juga banyak makan). Bahkan saya jadi egois. Menjauh dari orang-orang yang sebenarnya sangat peduli sama saya. Maaf ya..

Agustus, juga jadi bulan yang saya tunggu-tunggu. Wisuda. Menepati janji yang pernah saya buat waktu jadi mahasiswa baru taun 2006. Rasanya sama. Waktu saya berdiri di balerung UI pas saya jadi mahasiswa baru dan waktu jadi wisudawati. Sama-sama bikin nangis. Sama-sama bikin merinding. Bedanya, waktu jadi mahasiswa baru saya ada di atas. Di kursi penonton, sedangkan pas wisuda, di bawah.

Selepas Agustus, saya dikasih kesempatan buat icip-icip dunia baru. Gabung sama fasilitator lain di mata kuliah MPKT untuk mahasiswa semester 1. Belajar banyak hal dari mahasiwa-mahasiswi baru di FKG&FE.

Oktober, Piastro. Ketemu sama sodara-sodara saya dari UNM. Ngelepas kangenlah. Cuma bisa setaun sekali ketemunya. Tapi oktober taun ini beda. Di ujung Oktober, dengan segala perjuangan menggebu-gebu, tirakat, minum aer wudhu, akhirnya saya (sama Sessa) bisa nyampe di Makassar. Nepatin janji buat main ke sana. Janji dari taun 2008.

November, Desember. Masih MPKT-an, dan mulai ada panggilan-panggilan buat kerja.
Oiya, di Desember ini juga akhirnya saya di kasih kesempatan buat ngelawan ketakutan terbesar saya: berbicara dalam bahasa Inggris. Ngga Cuma bicara aja, tapi juga diskusi, presentasi, dan wawancara. All in English, and yeah, I did those ‘scary’ things.
Secara keseluruhan sih resolusi 2010 saya tercapai. Paling yaaaa, hal-hal sepele kaya belum nemu pacar (yakin lu cul itu sepele?), belum dapet kerja (ini lagi lu kata sepele?), sama belum bisa ngilangin kemalesan sih palingan.

Resolusi 2011? Hmm.
Ada. Beberapa. Tapi cukup dalam hati aja ah. Anggep aja itu janji saya sama diri sendiri. Dan biasanya kan janji sama diri sendiri itu yang punya bobotnya sendiri (ngemeng apa sih lu cul). Yah begitu lah pokonya. Hehehe.


HAPPY NEW YEAAAAR EVERYONEEE!



 

Template by BloggerCandy.com